(Part 2 ) Perusahaan Tambang Terbesar di Indonesia

Melanjutkan artikel yang sebelumnya, kami akan membahas sedikit artikel yang sebelumnya agar kalian tidak lupa dengan artikel sebelumnya mengenai apa. Kegiatan pasca penambangan berupa pengawasan dan pelestarian lingkungan, dilakukan secara berkelanjutan. Tentunya rangkaian proses industri pertambangan dilakukan secara benar dan tepat sesuai dengan ilmu pertambangan yang berlaku.

Menurut peraturan negara melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009, Pertambangan memiliki beberapa kelompok yakni pertambangan mineral logam, pertambangan mineral radioaktif, pertambangan mineral bukan logam dan pertambangan batuan.

Pertambangan mineral dan batuan sendiri dikelompokkan menjadi lima komoditas tambang yaitu, mineral radioaktif, mineral logam, mineral bukan logam, batuan dan batubara. Sejatinya ada ratusan situs tangkasnet perusahaan tambang di Indonesia yang menyumbang kontribusi untuk pembangunan  bangsa. Baik itu perusahaan tambang yang ada di Indonesia. Berikut perusahaan tambang batubara, nikel, maupun emas di Indonesia yang sudah kami rangkum untuk kalian ketahui.

Adaro Indonesia

Adaro Indonesia merupakan salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia. Perusahaan ini sudah berdiri sejak tahun 1966 dan mendapat konsesi dari Pemerintah Indonesia di wilayah di Kalimantan Selatan. Adaro Indonesia memiliki tiga pertambangan, yaitu Tutupan, Paringin dan Wara di area konsesi itu sesuai informasi di website perusahaan tambang ini.

Sepanjang tahun 2019, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) memproduksi batu bara mencapai 58,03 juta ton. Sementara itu pendapatan perseroan pada tahun 2019 sebesar US$ 3,46 miliar. Jumlah ini turun 4,42% dari pendapatan tahun 2018 yang tercatat US$ 3,62 miliar. Perusahaan tambang yang berkantor di Jakarta ini tercatat sebagai perusahaan terbuka. Sebesar 43% sahamnya dimiliki PT Adaro Strategic Investments, sementara sisanya dimiliki publik dan Garibaldi Thohir, saudara dari Erick Thohir.

Perusahaan Berau Coal

Nama perusahaan tambang di Kalimantan selanjutnya ada PT Berau Coal, yang juga termasuk salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1983 dan berpusat di wilayah Berau, Kalimantan Timur. Sebelumnya lebih dikenal dengan nama PT Risco dan berganti menjadi Berau Coal pada 2010.

Berau Coal bergerak di sektor pertambangan dan perdagangan batu bara. Selain itu, PT Berau Coal mendapat konsesi seluas 118.400 hektar di Kabupaten Berau, Samarinda, Kalimantan Timur. Kepemilikan perusahaan ini sebagian besar dikuasai Vallar Investment UK Limited, sementara sisanya dimiliki Sinarmas Group melalui Asia Resource Minerals Plc. Berau Coal mencatatkan produksi sebesar 26 juta metrik ton pada tahun 2016.

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)

ITMG merupakan salah satu raksasa batu bara di Indonesia dengan nilai kapitalisasi pasar dari mencapai Rp 11 triliunan pada Maret 2020. Sebesar 65 persen saham ITMG dipegang oleh Banpu Mineral Private Ltd, sebuah perusahaan yang berbasis di Singapura. Sementara sisanya diperuntukkan pada publik. ITMG dikenal tidak pelit soal urusan dividen karena sering membagikan dividen dalam jumlah besar per lembarnya.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA)


PT Bukit Asam Tbk dulunya bernama PN TABA lantas berubah nama setelah menjadi Perseroan Terbatas. Pada tahun 2002, perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu bara ini melantai di bursa saham. PTBA punya beberapa anak usaha seperti PT Bukit Pembangkit Innovative, PT Bukit Asam Prima, PT Bukit Energi Investama, dan beberapa perusahaan lainnya.

Inalum menjadi pemilik saham mayoritas perusahaan ini yakni sebesar 65,93 persen lalu 30,37 persennya sisanya diperuntukkan bagi publik. Nilai kapitalisasi pasar PTBA juga cukup besar yaitu Rp 28 triliun pada Maret 2020. Perusahaan ini berhasil membukukan laba Rp 4 triliun, walau pada tahun 2019 batu bara lesu,

PT Aneka Tambang Tbk


Perusahaan tambang di Indonesia tentu sudah dikenal banyak masyarakat khususnya bagi mereka yang suka berinvestasi emas. PT Aneka Tambang Tbk merupakan anak perusahaan BUMN pertambangan Inalum dan berdiri pada tanggal 5 Juli 1968. Kegiatan perseroan ini mencakup eksplorasi, penambangan, pengolahan serta pemasaran dari sumber daya mineral.

Pendapatan perseroan ini melalui melalui kegiatan eksplorasi dan penemuan deposit mineral, pengolahan mineral tersebut secara ekonomis, dan penjualan hasil pengolahan itu kepada konsumen jangka panjang yang loyal di Eropa dan Asia. Kegiatan ini telah berlangsung sejak perusahaan berdiri tahun 1968. Komoditas utama Antam berupa bijih nikel kadar rendah atau limonit, bijih nikel kadar tinggi atau saprolit, feronikel, emas, perak dan bauksit. Jasa utama PT Antam berupa pengolahan dan pemurnian logam mulia serta jasa geologi.

PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT)

PT Amman Mineral Nusa Tenggara merupakan perusahaan yang mengoperasikan tambang Batu Hijau. Perseroan ini juga punya beberapa prospek lain yang sangat menjanjikan di area konsesi tembaga dan emas yang terletak di Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara. Tambang Batu Hijau merupakan tambang tembaga dan emas terbesar kedua di Indonesia dan juga aset berkelas dunia.

PT Amman Mineral Nusa Tenggara telah memproduksi sekitar 3,6 juta ton tembaga serta 8 juta ounces emas, dengan massa tambang dan diikuti pengolahan stockpile jangka panjang. Fasilitas yang dimiliki juga lengkap termasuk armada peralatan tambang yang besar, pembangkit listrik tenaga batubara 112 MW, pelabuhan dengan terminal kapal feri, layanan udara, pabrik pengolahan dengan kapasitas 120.000 ton per hari, dan townsite yang tertata dengan baik.

PT. Arutmin Indonesia

Daftar perusahaan tambang di Indonesia lainnya yang berjaya pada 2019 ada PT. Arutmin Indonesia. Perusahaan ini beroperasi di bidang produksi batubara untuk pembangkit listrik dan pabrik-pabrik industri. Produk yang ditawarkan berupa batubara sub bituminous, batubara bituminous, dan produk batubara. Arutmin Indonesia mengelola pertambangan Senakin, Satui, Mulia, Asam, Asam dan Batulicin, semuanya berada di situs pertambangan terletak di Kalimantan Selatan.

Perusahaan yang didirikan pada tahun 1981 ini berpusat di Jakarta, Indonesia serta beroperasi sebagai anak usaha dari PT. Bumi Resources Tbk. Arutmin Indonesia termasuk salah satu perusahaan penghasil dan pengekspor batubara terbesar di Indonesia. Perseroan ini menandatangani kontrak penambangan batubara dengan Pemerintah Indonesia pada tahun 1981 yang dikenal dengan nama Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B).

PT J Resources Asia Pasifik Tbk


Perusahaan tambang di Indonesia selanjutnya ada PT J Resources Asia Pasifik Tbk yang berbasis di Indonesia dan bergerak dalam industri pertambangan emas. Perusahaan ini menginvestasikan dan mengelola usaha pertambangan emas beserta usaha logam mulia lainnya di kawasan Australia.

Beberapa tambang aktif berproduksi, sementara yang lainnya bergerak dalam fase pengembangan dan eksplorasi. PT J Resources Asia Pasifik Tbk memiliki produksi pertambangan emas, yang terletak di Penjom, Malaysia dan Lanud di Sulawesi Utara, Indonesia.

Selain itu, proyek eksplorasi Perusahaan terletak di Bulagidun, Bolangitang, dan Tembaga di Sulawesi Utara, Indonesia. PT J Resources Asia Pasifik Tbk juga bergerak dalam bidang pengadaan layanan katering, serta perdagangan umum, usaha transportasi dan perumahan. Anak perusahaannya bernama PT J Resources Nusantara yang bergerak dalam bidang perdagangan dan jasa.

Perusahaan Tambang Terbesar di Indonesia

Perusahaan besar tambang yang ada di Indonesia menjadi salah satu sektor yang paling terpenting karena menunjang banyak faktor dalam kehidupan negara.  Pasalnya perusahaan yang satu ini memproduksi sumber daya alam maupun kandungan mineral seperti pada pengolahan bahan bakar, mineral logam dan juga bebatuan. Aktivitas dari perusahaan tambang ini meliputi penyelidikan, penelitian, pengelolaan, eksploitasi, studi, pemurnian, pengangkutan dan juga penjualan. Semua aktivitas untuk mengelola sumber daya alam dilakukan oleh industri pertambangan.

Selain itu, kegiatan pasca penambangan berupa pengawasan dan pelestarian lingkungan, dilakukan secara berkelanjutan. Tentunya rangkaian proses industri pertambangan dilakukan secara benar dan tepat sesuai dengan ilmu pertambangan yang berlaku. Menurut peraturan negara melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009, Pertambangan memiliki beberapa kelompok yakni pertambangan mineral logam, pertambangan mineral radioaktif, pertambangan mineral bukan logam dan pertambangan batuan.

Pertambangan mineral dan batuan sendiri dikelompokkan menjadi lima komoditas tambang yaitu, mineral radioaktif, mineral logam, mineral bukan logam, batuan dan batubara. Sejatinya ada ratusan perusahaan tambang di Indonesia yang menyumbang kontribusi untuk pembangunan bangsa. Baik itu perusahaan tambang yang ada di Indonesia. Berikut perusahaan tambang batubara, nikel, maupun emas di Indonesia yang sudah kami rangkum untuk kalian ketahui.

PT Pertamina (Persero)

Pertama, ada PT Pertamina yang produknya tentu bersahabat dengan masyarakat Indonesia. Mulai dari produk bahan bakar minyak, pelumas, gas, dan sebagainya. Perusahaan yang bergerak di bidang industri minyak dan gas terbesar di Indonesia ini telah berdiri sejak 10 Desember 1957 dan berkantor pusat di Jl. Medan Merdeka Timur, Jakarta. Pertamina adalah transformasi dari PN Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Nasional dan sempat memonopoli pendirian SPBU di Indonesia sampai tahun 2000.

Perusahaan pertambangan di Jakarta ini mengelola tujuh kilang minyak dengan total kapasitas 1.051,7 MBSD, memiliki pabrik petrokimia dengan total kapasitas 1.507.950 ton per tahun, dan pabrik LPG dengan total kapasitas 102,3 juta ton per tahun. Terdapat pula produk olahan dari perusahaan tambang di Indonesia ini seperti bahan bakar minyak, bahan bakar non minyak, gas, pelumas dan petrokimia. Satu lagi bukti bahwa Pertamina merupakan raksasa pengolahan minyak dan gas yaitu dengan bertebarannya anak perusahaan di berbagai sektor industri cabang.

Selain itu terdapat sekitar 18 anak perusahaan pertamina yakni PT Pertamina EP Cepu, PT Pertamina Drilling Services Indonesia, PT Nusantara Regas, PT Pertamina EP, PT Pertamina Geothermal Energy, PT Pertagas, PT Pertamina Hulu Negeri, PT Pertamina Patra Niaga, PT Pertamina Trans Kontinental, PETRAL, PT Pertamina Retail dan PT Tugu Pertamina Indonesia, PT Pertamina Dana Ventura, PT Pertamina Bina Medika, PT Patra Jasa dan beberapa lainnya.

PT Kaltim Prima Coal – Perusahaan Tambang Batu Bara

PT Kaltim Prima Coal merupakan salah satu perusahaan tambang batubara tertua dan terbesar di Indonesia. Berkantor pusat di Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, perseroan ini tentunya masuk daftar perusahaan tambang di Kalimantan dan berdiri sejak tahun 1982. PT Kaltim Prima Coal memiliki lahan tambang batu bara seluas 84.938 hektar. Tapi pada tahun 2003, kepemilikan perusahaan ini berpindah tangan kepada PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan kepemilikan 100%.

Perusahaan tambang batubara ini memiliki 4.500 karyawan dan lebih dari 20.000 karyawan di bagian kontraktor. Selain itu, pertambangannya juga memiliki pembangkit sendiri yaitu PLTU berkapasitas 3×15 MW dan 2×5 MW. Terdapat pula Pembangkit Listrik Tenaga Uap sebanyak 18 MW yang diberikan kepada pihak PLN sebagai penerangan dan kebutuhan listrik warga Sangatta.

Sebagai salah satu perusahaan tambang batubara terbesar di indonesia, PT Kaltim Prima Coal mengalami kenaikan produksi dari tahu ke tahun. Pada 2018, perseroan ini berhasil memproduksi sebanyak 58 juta ton batubara, tahun 2019 sebanyak 62 ton, dan pada tahun ini juga diprediksi akan naik.

PT Freeport Indonesia

Kamu tentu tidak asing dengan PT Freeport Indonesia, perseroan tambang emas di Indonesia. Perusahaan ini mengelola tambang Grasberg yang merupakan tambang emas terbesar di dunia dan tambang tembaga ketiga terbesar di dunia. Tentunya hal itu melambungkan nama Perusahaan diresmikan sejak tanggal 7 April 1967 ini di jagat internasional.

Pemerintah Indonesia sudah mengambil bagian sebesar saham Freeport sebesar 51% dengan tebusan sebesar Rp 56,1 triliun. Sebelumnya pemerintah sudah melakukan beberapa kali kontrak dengan Freeport yakni kontrak pertama pada tahun 1967 dengan saham pertama Indonesia sebesar 9,36% lalu dilanjutkan kontrak II di tahun 1991. Perusahaan tambang yang beroperasi di Papua ini memberikan dukungan berupa investasi untuk pembangunan Papua selama 2012 sejumlah USD 110,9 juta.

Selain itu, terdapat pula program pengembangan sosial senilai USD 68,14 juta dan program pengembangan masyarakat sejumlah USD 39,26 juta. Alokasi dana investasi itu masih ditambah dengan USD 600 juta dalam bentuk infrastruktur sosial seperti asrama siswa, rumah sakit, dan sekolah. Bisa bekerja di PT Freeport Indonesia merupakan impian banyak anak teknik, tak jarang banyak yang menantikan lowongan kerja perusahaan tambang asing di Indonesia ini.

PT Agincourt Resource

Perusahaan tambang di Indonesia selanjutnya yang patut kamu ketahui adalah PT Agincourt Resource. Perusahaan yang beroperasi di bidang tambang mineral ini berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan mineral bagi masyarakat serta menjalani berbagai program CSR dan produktivitas yang handal. PT Agincourt Resource punya tambang emas bernama Martabe yang luasnya mencapai 130.300 hektar di pesisir barat Provinsi Sumatera Utara. Perusahaan yang berkantor pusat di Pondok Indah Jakarta ini mengelola hasil alam berupa mineral emas batangan dan perak.

Perusahaan tambang ini mengelola sumber daya alam dengan jumlah 7,8 juta ounce emas dana 64 juta ounce perak. Kapasitas operasi tambang emas di Martabe mencapai lebih dari 5,5 juta ton bijih per tahun dan mampu menghasilkan 350.000 ounce emas serta 2-3 ounce perak per tahun. Profil dan website perusahaan tambang ini juga menyebut bila terdapat lebih dari 3.000 karyawan dan kontraktor. Total dari 99% diantaranya merupakan warga negara Indonesia dan lebih dari 70% diantaranya direkrut dari penduduk setempat.

PT Vale Indonesia Tbk

Perusahaan tambang di Indonesia berikutnya ada PT Vale Indonesia Tbk yang berkecimpung di industri pertambangan nikel. Hal ini sesuai naungan kontrak karya yang diubah pada tanggal 17 Oktober 2014 yang berlaku sampai 28 Desember 2025. Vale beroperasi atas penanam modal oleh asing dan memiliki luas operasi lahan perseroan seluas 118.017 hektar meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.

Hasil nikel dari Vale diimpor kepada Jepang sesuai perjanjian antar kedua negara. PT Vale Indonesia juga kerap melakukan reklamasi dan rehabilitasi di bekas lokasi tambang sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat setempat. Hal ini untuk menjamin kondisi lingkungan di sekitar lokasi penambangan sehingga masyarakat tidak khawatir apalagi terancam.

Pertambangan yang ada di Indonesia dari zaman VOC hingga Orde Baru

Cerita yang sangat panjang pada sejarah penguasaan sumber daya alam (SDA) yang ada di Indonesia yang dapat kita lacak setidaknya dari kedatangan Vereenigde Oost Indische Compagnie atau VOC abad ke-16 di kepulauan Indonesia. VOC ini yang dikenal dengan sebutan kompeni adalah rombongan dari para pedagang yang bersenjata yang memiliki sebuah tujuan untuk memperluas area dagang mereka ke dunia-dunia baru yang ada di luar Eropa. Hal pertama yang dilakukan VOC adalah menguasai kantong-kantong ajaib yang menjadi pusat dari keberadaan sumber daya produktif rakyat di kepulauan Indonesia dengan cara menjadikan struktur lama feodal sebagai perpanjangan kaki tangan VOC di wilayah-wilayah produktif tersebut. Tindakan VOC ini dilakukan dengan mengeruk SDA dan menjadikan rakyat di kepulauan Indonesia sebagai tenaga kerja bagi keuntungan perdagangan mereka. Berjalannya cara-cara kerja VOC ini erat kaitannya dengan bagaimana kebijakan-kebijakan tentang SDA yang ditetapkan di kepulauan Indonesia saat itu dengan berbagai bentuk dan dinamika.

Pada awal Mei 1662, VOC, perusahaan multinasional asal Belanda menduduki Pulau Cingkuak (Poulo Chinco).

Penguasaan oleh VOC didasarkan konsesi untuk berdagang di Sumatra’s Westkust melalui Perjanjian Painan (W.J.A. de Leeuw, Het Painansch Contract. Amsterdam: H.J. Paris, 1926). VOC menguasai Cingkuak pada tahun 1662 dan menjadikan pulau kecil itu sebagai jangkar untuk menduduki Kota Padang. Pulau ini juga digunakan hingga lebih satu abad kemudian sebagai loji untuk keperluan perdagangan lada dan pala, bahkan mengelola tambang emas Salido.

Penjajahan Jepang

Beralih ke masa invasi Jepang ke Indonesia. Pada masa itu, kantong-kantong industri Belanda sengaja dihancurkan dengan politik “Bumi Hangus”, sehingga situs slot mpo pada masa-masa itu pertambangan Belanda tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk digunakan oleh penjajah Jepang.

Segala dokumen Dienst van den Mijnbouw diganti namanya oleh Jepang menjadi Chisitsu Chosasho.

Tidak banyak dokumen tentang pertambangan di masa kolonial Jepang yang hanya tiga tahun menduduki Nusantara. Salah satu peninggalan Jepang yaitu tambang batubara di Bayah, Banten, yang saat itu dikelola oleh Bayah Kozan Sumitomo Kabushiki Kaisha.

Setelah Agresi Militer II

Ketika Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya tahun 1945, para “founding fathers” yang ada di negara Indonesia, sadar betul dengan kondisi kekayaan alam yang ada di atas dan di dalam bumi pertiwi ini, dan dari basis kekayaan itulah Indonesia dan rakyatnya diandalkan untuk membangun Bumi Indonesia bagi kemaslahatan rakyat Indonesia.

Pertambangan di era Presiden Ir. Soekarno tidak berkembang pesat karena dia anti terhadap kapitalisme-imperialisme. Namun, peninggalan data-data Belanda berupa tempat-tempat potensial untuk pertambangan menjadi modal untuk pengembangan kegiatan pertambangan. Indische Mijnwet diganti dengan Undang-Undang RI Nomor 37 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan. Perpu ini menganut ekonomi berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), tidak memperdulikan perkembangan pertambangan di dunia.

Penanaman modal asing sama sekali ditutup, sesuai dengan UU No. 78 Tahun 1958 tentang penanaman modal asing yang berlaku saat itu.

Presiden Ir. Soekarno ingin semua kekayaan alam Indonesia dikelola oleh insinyur-insinyur Indonesia sendiri. Sejak awal, dalam UUD 1945, perihal kekayaan alam yang dieksplisitkan dengan kata-kata “Sumber Daya Alam” menjadi objek pengaturan tersendiri di dalam pasal 33 ayat 3 yang di sana diatur tentang “penggunaan sumber daya alam itu, untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat Indonesia. UU N0.44/1960. Tahun 1963, geolog Freeport Forbes Wilson dan Del Flint melakukan ekspedisi kembali ke Irian Jaya, setelah mendengar kabar geolog Belanda Dozy yang menemukan gunung yang mengandung bijih tembaga dan emas.

Periode Orde Baru

Titik penting yang dapat dilihat pada awal pemerintahan Orde Baru ini adalah diterbitkannya Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1966, yang menyatakan tentang bergabungnya kembali Republik Indonesia dalam International Monetary Fund (IMF) dan International Bank for reconstruction and Development.

Dengan asistensi ekonom-ekonom IMF, Pemerintah Orde Baru mengeluarkan tiga undang-undang yang berkaitan dengan SDA pada 1967, yang dikenal sebagai “Paket 1967”, yaitu, pertama UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, kedua, pada 24 Mei 1967 diterbitkan UU No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan; dan ketiga pada 2 Desember 1967 dikeluarkan Undang-Undang Pokok Pertambangan (UU No. 11 Tahun 1967). Tanggal 5 April 1967 dilakukan penandatangan kontrak karya (KK) antara Freeport Sulphur Company (FCS) dan pemerintah Indonesia. Pada periode 1967-1972 terdapat US$ 2488,4 juta penanaman modal asing masuk di Indonesia (di luar perbankan).

Manfaat Sumber Daya Alam

Dalam pemanfaatan sumberdaya alam di sektor pertambangan mineral dan galian mulai muncul pada tahun 1669 di Salido Sumatera Barat pada masa jabatan Commandeur Jacob Joriszoon Pit, yang menjabat 1667 hingga 23 Mei 1678. Pit adalah commandeur VOC ketiga untuk pos Padang. VOC mendatangkan untuk pertama kalinya dua ahli tambang di Salido bernama Nicholas Frederich Fisher dan Johan de Graf yang berasal dari Hungaria, bersama dengan para buruh yang berasal dari budak-budak yang dibawa VOC dari Madagaskar dan tawanan perang (krijgsgevangenen) dari daerah sekitarnya. Menurut J.E. de Meyier dalam De goud-en zilvermijn Salido ter Sumatra’s Westkust, De Indische Gids 32.1 (1911) disebutkan bahwa budak-budak dari Nias juga dipekerjakan di tambang itu. Kala itu Fisher dan Johan de Graff meyakinkan VOC bahwa eksploitasi tambang Salido akan memberi banyak keuntungan.

Akhirnya, Juli 1679, VOC kembali mendatangkan ahli tambang ke Salido. Ia seorang insinyur bernama Johann Wilhelm Vogel asal Jerman. Selama bekerja di Salido Johann Wilhelm Vogel menulis buku berjudul Zeven j hrige Ost – Indianische Reise – Beschreibung, Altenburg: J.L. Richter, diterbitkan tahun 1707. Buku ini menceritakan pengalamanya selama bekerja di tambang Salido. Setelah Johann Wilhelm Vogel, VOC kembali mendatangkan ahli bebatuan gunung, Benjamin Olitzsch, bersama dengan seorang asisten bernama Elias Hesse. Tapi malang bagi Benjamin Olitzsch, ia meninggal pada 28 Mei 1682 di Salido karena sakit. Jenazahnya dimakamkan di Pulau Cingkuak. Setelah Wilhelm Vogel, pengelolaan tambang Salido digantikan oleh Gabriel Muller. Pada masa Muller Tambang Salido mengalami kemunduran. Kehidupan di tambang itu makin buruk.

Saat itu Belanda sedang berperang dengan Perancis. Kondisi ini berdampak pula ke negeri-negeri jajahannya. Akhirnya tambang Salido terpaksa ditutup.

Pada tahun 1724, VOC kembali membuka tambang Salido dengan mendatangkan seorang ahli asal Jerman bernama Mettenus dengan asistennya bernama Weinberg. Usaha membuka tambang Salido kali ini ternyata hanya sia-sia. VOC mengalami kerugian, dan akhirnya tambang Salido kembali ditutup. Antara tahun 1732 hingga 1733, hasil tambang Salido dilaporkan meningkat, rata-rata per ton batu tambang mengandung bijih emas senilai f 1350. Menurut dari R.J. Verbeek, yang menulis beberapa buku tentang Tambang Salido (Verbeek 1880 dan 1886) antara tahun 1669 hingga 1735, tambang Salido sudah menghasilkan 800 ton bijih emas, dengan nilai f 1.200.000 atau rata-rata f 1.500 per ton. Tahun 1710, Kesultanan Palembang kemudian bekerja sama dengan VOC untuk penjualan hasil timah di Bangka. Tahun 1717, VOC telah melakukan ekspor timah dalam jumlah kecil ke Eropa, tetapi kegiatan ini hanya berlangsung hingga 1755.