Kiat Sukses Menjadi Seorang Pengusaha Tambang Batu Bara

Apakah kalian termasuk orang yang memang ingin menjadi pengusaha dalam dunia pertambangan batu bara ? jika iya, maka untuk bisa memulainya kalian tidak perlu tergesa-gesa. Setidaknya disini kalian harus mengetahui bagaimana tip maupun kiat atas kesuksesan yang bisa diraih nantinya. Kira-kira seperti apa memang ? simak saja ulasan yang akan kami berikan pada bacaan yang ada di bawah ini ! 

Menjadi seorang pengusaha akan semakin terlihat menjanjikan terutama sekali pada masa-masa sulit seperti sekarang ini. Keadaan saat ini sedang tidak begitu pasti bagi kalangan pengusaha, yang pada akhirnya bisa membuat semua orang menjadi khawatir serta tidak sangat yakin akan pekerjaan yang dijalaninya. Untuk generasi Milenial sendiri sudah terkenal sebagai generasi dari pekerja keras yang saat ini ikut serta merasakan kekhawatiran ketika pekerjaan Agen Sbobet
yang dimiliki makin lama makin tidak mampu dalam menjamin kesejahteraan secara pasti. Dan inilah mengapa pada akhirnya sudah banyak sekali yang ingin mencoba untuk bisa menjadi seorang pengusaha yang berdikari sendiri. 

Walaupun seperti itu, menjadi seorang pengusaha bukan berarti semuanya ini langsung terasa begitu menjaminkan dibandingkan saat mereka sedang menjadi pekerja. Banyak sudah faktor yang diperlukan untuk sesegera mungkin menjadi pengusaha. Namun sebelum bisa membahas faktor menjadi seorang pengusaha yang sukses, maka langkah awal yang bisa kalian tentukan untuk menjadi pengusaha sendiri mengetahui jenis perusahaan apa yang sekiranya ingin sekali kalian bangun. 

Memikirkan Bisnis Menjadi Kunci Awal 

Sebenarnya banyak sekali pilihan atas bisnis untuk saat ini, dimulai dari barang-barang kebutuhan sehari-hari sampai dengan barang-barang tersier lainnya. Untuk bisa menjawab pertanyaan ini, maka kalian harus bisa mengenali lebih dahulu minat kalian. Jika nantinya sudah mengetahui minat, maka kalian akan sangat mudah di dalam menentukan perusahaan seperti apa yang memang ingin kalian bangun nantinya. 

Namun jika dalam hal ini kalian masih saja merasa belum mendapatkan jawabannya, maka kalian bisa melihat langsung atas tren yang ada. Misalnya mencari dengan menggunakan kata kunci Tren seperti apa yang saat ini masih berlangsung ? bagaimana potensi yang sekiranya ada pada tren tersebut ? … kalau sampai detik ini sih yang masih banyak peminatnya jatuh sebagai pengusaha bisnis pertambangan batu bara. Bisnis tersebut akan menjajikan hari demi harinya sejala dengan semakin tinggi tergantung atas minat masyarakat untuk menjadi seorang pengusaha batu bara. 

Terlebih lagi untuk kawasan yang berada di Indonesia ini memiliki kekayaan alam tanpa memakan batasan, komoditas dari batu bara akan terlihat jauh lebih menjanjikan jadinya. Namun tidak semerta-merta bisa berhenti di situ saja. Selain nantinya kalian bisa menjadi pengusaha batu bara, kesempatan dan peluang lainnya bisa datang menghampiri kalian. Pasalnya di sini negara juga sudah siap melakukan kerjasama dengan perusahaan batu bara jika kalian memiliki komitmen kuat kepada negara dalam membantu pengembanganperbaikan negara, dan salah satunya sendiri dengan bekerja sama untuk proyek pembangkit listrik. 

Batubara Sebagai Sumber Utama sebagai Pembangkit Listrik 

Perusahaan dari batu bara memang sampai detik ini sudah sangat melekat dengan sentimen buruk yang pada akhirnya mampu memberikan manfaat berarti kepada masyarakatnya. Berarti disini pihak masyarakat juga bisa menikmati keuntungan dari adanya aliran listrik yang berasal dari pembangkit raksasa berbahan bakar batubara tersebut. 

Dengan sifat dari batu bara yang tersedia di alam, maka mineral sudah menjadi salah satu yang masuk ke dalam kategori terfavorit atau menjadi primadona dalam dunia pertambangan batubara yang hingga detik ini masih saja dilirik serta diharapkan menjadi sumber utama atas pembangkit listrik. Batu bara juga sudah diharapkan mampu memenuhi kebutuhan energi masyarakatnya. 

Batu bara selama ini juga sudah menjadi sumber energi primer sebagai pembangkit listrik. Jika bisa kalian bandingkan dengan energi alternatif lainnya layaknya Gas Alam, solusi yang mampu dihasilkan dari batu bara ini masih saja tergolong relatif sedikit. Hal ini juga yang sudah menjadikan harga dari batu bara masih begitu rentan dengan fluktuasi pasar yang ada di dunia. 

Kurang lebih ada 39% atas total Output yang berasalkan dari energi listrik di dunia dan dihasilkannya memang oleh pembangkit listrik yang bertenaga batu bara. Kebutuhan dari dunia pertambangan batu bara ini sendiri sudah ditujukan untuk keperluan kelistrikan oleh PT. PLN ( Perusahaan Listrik Negara ) yang bisa saja mengalami peningkatan. Da tahun 20019, kebutuhan dari batu bara ini oleh PLB sekitaran 96 juta ton. 

Belum lagi dari adanya penambahan PLTU atas proyek baru dari PLN juga semakin membuat batu bara akan dibutuhkan untuk konsumsi rutinnya. Akses mudah dalam mengelola batu bara bisa ditambah dengan jumlah dari persediaan yang bisa dibilang sangat cukup menjadi beberapa faktor dari angka yang memang menakjubkan. 

Keuntungan Besar Ketika Menjadi pengusaha Batu Bara 

Dikutip langsung dari DEN ( Dewan Energi Nasional ) oleh situs ajaib.co.id yang dikeluarkan sejak tahun 2014 silam, Indonesia memiliki daya akan batu bara sebesar 119,82 Miliar ton serta cadangan batu bara kurang lebihnya sebesar 28,97 miliar ton juga. Persediaan yang cukup membuat kalian ternganga ?! dimana angka ini sudah membuat Indonesia menjadi salah satu atas 10 negara penghasil batu bara terbesar yang ada di dunia. 

Dari beberapa fakta ini maka tidaklah mengherankan jika pada akhirnya para pengusaha batu bara ini memanfaatkan kekayaan alam yang satu ini sebagai sebuah pilihan atas bisnisnya tersebut. Perusahaan tambang yang mengelola batu bara Indonesia juga akan semakin giat bermunculan. Keuntungan yang bisa didapatkan dari mengelola bisnis batu bara ini tidak perlu lagi diragukan nantinya. 

Indonesia sudah sebagai negara yang mana membuat persyaratan Infrastruktur bagi bisnis batu bara yang semakin mudah bahkan terkesan jauh lebih mudah dibandingkan dengan bisnis sumber daya energi lainnya. Selain adanya kemudahan untuk memiliki izin penambangan tersebut, upah pekerja tambang batu bara juga relatif rendah dibandingkan dengan pekerja di negara-negara lainnya. Tidak sejalan dengan harga dari batu bara di Indonesia yang sangat kompetitif di pasar Internasional. 

Di mata pasar Internasional, Indonesia sudah menjadi primadona dalam memasok batubara. Nah Indonesia sendiri pada akhirnya sudah memiliki pasar ekspor batu bara yang ada seperti di China – Jepang – korea Selatan serta India. Pasokan dari batu bara ini akan segera diekspor ketika kebutuhan dari batu bara dalam negeri sudah cukup terpenuhi. Dengan begini, akan semakin lengkap juga proses pemasaran bisnis batu bara. Pasar sudah jelas dan hasil dari tambang sangat amat nyata pada manfaatnya, terlebih lagi yang perlu ditunggu ? 

Meskipun begitu, harus diketahui juga bahwa tambang batu bara ini memiliki sisi buruk maupun efek samping yang mana lebih bagi lingkungannya. Sejumlah LSM terutama berfokus pada bidang lingkungan hidup yang menginginkan kegiatan tambang batu bara untuk dihentikan karena tidak akan baik untuk lingkungannya. 

Disini LSM atas lingkungan hidup sudah mengganggu batubara sebagai sumber energi kebaikannya yang tidak pernah sebanding dengan kerusakan yang dihasilkan langsung oleh adanya pertambangan batu bara tersebut. Kerusakan yang dimaksudkan ini bisa meliputi : Banjir – Longsor – Serta adanya pencemaran dari air maupun udara. 

Setelah benar-benar memahami potensi bisni dari pertambangan batu bara tersebut, kalian tinggal mempelajari seluk beluk dan cara lengkap untuk menjadi penguasa batu bara. Terlebih lagi akan hal-hal yang berurusan dengan regulasi yang ada. Good Luck untuk kalian ya !

Risiko atas Peluang Bisnis dari Dunia Pertambangan Tahun 2021

Semenjak masuknya pandemi Covid-19 ini datang dari tahun 2020 kemarin ini, rupanya sudah memicu dampak besar pada sektor pertambangan secara global. Namun beberapa dampak ini diantaranya sudah berhasil untuk bisa diatasi dengan sangat baik. Faktor yang mampu mempengaruhi keberhasilan ataupun tidaknya dari sektor pertambangan dalam mengatasi dampak dari pandemi ini antara lainnya adalah budaya keselamatan yang memang memprioritaskan sebuah keutamaan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Lalu mulai adanya kolaborasi dengan pemerintah, sektor, pakar dari kesehatan dan masyarakat sampai dengan saran dari ahli di dalam memastikan kembali atas tanggapan yang konsisten hingga efektif terhadap pandemi Covid-19 ini. 

Beberapa tambang diantaranya masih saja tetap beroperasi dan juga sudah sangat produktif sekali selama pandemi. Meskipun jumlah dari para pekerja di lapangan jauh menjadi relatif sedikit. Namun kelangsungan dari bisnis pada sektor tambang ini sendiri haruslah dibayar dengan mahal karena memang jelas, terlihat bahwa saat memasuki tahun 2021 ini, Covid-19 masih berdampak pada keseluruhan bisnis Industri, termasuk ya sektor pertambangan ini. Didapati dari lansiran situs Ernst & Young Global Limited oleh duniatambang.co.id, berikut ini akan diberitahukannya Risiko langsung atas peluang dari dunia bisnis pertambangan tahun 2021 ! 

Berdasarkan Izin Pengoperasian 

Untuk izin operasi ini sendiri sudah masuk menjadi masalah nomor 1 bagi para perusahaan pertambangan sebesar 63% Responden yang menandainya sebagai salah satu dari 3 risiko paling atas nantinya. Di dalam memperoleh surat izin pengoperasian penambangan ini, maka perusahaan pertambangan harus bekerja sama dengan pemerintah dan juga asosiasi lainnya agar mampu diterima baik oleh masyarakat. Selain daripada itu, harus ada juga di dalam mengubah citra perusahaan menjadi jauh lebih bernilai lagi agar nanti investor bisa tertarik mengikuti investasinya. Hal inilah yang menjadi sebuah kunci awal di dalam mendapatkan modal dan juga sumber pendanaan lainnya. 

Berdasarkan Risiko yang Berdampak Tinggi 

Untuk saat ini pandemi Covid-19 memang sangat jelas menunjukkan betapa pentingnya untuk bisa memahami serta meninjau Risiko yang berdampak tinggi nantinya, terutama sekali dalam memahami dan juga meninjau hubungan yang signifikan antara sebuah kemampuan perusahaan di dalam mengelola perusahaan dengan baik. Adanya pandemi ini bisa meningkatkan kesadaran dari para pemangku kepentingan mengenai bagaimana perusahaan tersebut harus bisa mempersiapkan, lalu bisa mengelola dan bisa memantau atas semua kegiatan yang memang memiliki risiko dengan dampak jauh lebih tinggi dari sebelumnya. 

Berdasarkan atas Produktivitas & Kenaikan Biayanya 

Adanya sebuah kompleksitas penambangan yang meningkat dan harga dari komoditas ini turun semenjak pandemi bisa disebabkan oleh pasokan yang mulai terganggu dan tidak adanya ketidakpastian akan ekonomi terhadap suatu permintaan. Sehingga disini kenaikan biaya dan juga produktivitas masih saja belum bisa terpantau dengan sebaik mungkin. Dalam jangka panjang, diharapkannya perusahaan pertambangan itu bisa mengatasi masalah ini jauh lebih efektif dengan memperhatikan langsung biaya serta produktivitas dari hulu sampai dengan ke hilirnya. 

Berdasarkan dari Dekarbonisasi 

Untuk Dekarbonisasi sendiri sudah masuk menjadi sebuah isu yang mengikat setelah adanya pandemi karena memang salah satu tuntutannya sendiri dalam mengurangi emisi gas rumah kaca atau GRK, yang mana hal ini sudah menjadi masalah lingkungan terbesar bagi perusahaan pertambangannya. Kini sudah banyak perusahaan pertambangan kembali di dalam mengatur ulang operasi penambnangan, meningkatkan fokus pada masalah lingkungannya, pada keselatana hingga tata kelola. Hal ini guna menjadi sebuah keunggulan kompetitif dalam memperebutkan modal yang ada. 

Berdasarkan atas Permainan Konsep Geopolitiknya 

Survei dari para eksekutif pertambangan sudah langsung menunjukkan bahwa isu dari Geopolitik yang diharapkan bisa berdampak jauh lebih besar pada perubahan dari peran Amerika Serikat di dalam sistem Internasional, Stabilitas Uni Eropanya serta hubungan Amerika Serikat dengan Negara China. 

Penilaian tersebut lantas saja mencerminkan dari pergeseran keseimbangan antara kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Dimana Amerika Serikat selalu memposisikan dirinya ini perspektif pada kepemimpinannya. Kalau untuk negara China sendiri memainkan peran jauh lebih  besar di dalam Geopolitiknya. Sementara itu, Uni Eropa sedang gencar-gencarnya di dalam mencari proyeksi kekuatannya sendiri yang lebih Kohesif. 

Pada saat blok-blok baru yang mulai muncul ini mengkonsolidasikan kekuatan mereka, jadinya hubungan di antara blok-blok ini dengan Uni Eropa bisa-bisa menjadi tidak stabil. Hal ini tentu akan mengubah banyak dinamika bagi perusahaan pertambangan yang mana akan tren ke arah proteksionisme ekonomi yang mendukung produsen dari barang domestik dengan menghasilkan bahwa negara dari Tuan Rumah akan mampu untuk menerima bagian adil dari kekayaan sumber daya nya tersebut. 

Berdasarkan dari Capital Agenda 

Selama jangka waktu krisis akibat datangnya Pandemi Covid-19 ini, para perusahaan pertambangan sudah lelah mengoptimalkan likuiditas dengan langsung mengelola kas dengan gaya super ketat. Memprioritaskan pengopeasian atlet juga dapat mengurangi atau bisa memotong belanja modal yang tidak penting atau dengan non intinya. 

Berdasarkan atas Tenaga Kerja 

Nah selama pandemi, perusahaan dari pertambangan ini masih saja berkomitmen untuk bisa menjaga kesehatan pekerja, lalu bisa membantu dalam melindungi kesehatan dari pekerja dan bisa mengurangi risiko d saat sedang bekerja. Perusahaan sudah menyadari langsung bahwa percepatan dari adopsi kerja jarak jauh dan tim virtual berpotensi lebih besar dalam menjaga tim tetap aman dan juga produktif. Pandemi ini sudah mendorong adanya perubahan budaya akan perusahaan di sektor pertambangan dengan menciptakan peluang baru untuk transformasi tenaga kerja yang memang sudah berkelanjutan. 

Berdasarkan dari Volatilitas 

Nah salah satu dampak lainnya akibat pandemi dalam dunia pertambangan di tahun 2021 ini ya dilihat langsung Volatilitasnya. Pandemi sudah secara signifikan bisa mengganggu rantai pasokan dalam kurun waktu terdekat dan mampu menciptakan ketidakpastian yang berkelanjutan seputar dari permintaan komoditas tambang. Oleh karena itulah, perusahaan pertambangan harus bisa membuat sebuah keputusan jangka panjang yang berkelanjutan demi mendapatkan kembalinya Volatilitas harga komoditas yang parah, ancaman dari substitusi sampai dengan perubahan permintaan para pelanggannya. 

Berdasarkan atas Optimisasi dan Digitalisasi Data yang Ada 

Disini dampak pandemi mampu memberi manfaat dalam hal teknologi untuk menunjang optimalisasi dan digitalisasi data. Seperti halnya Otomatisasi data, lalu AI dan juga Blockchain dalam membantu keberlangsungan bisnis di sektor pertambangannya. 

Berdasarkan atas Inovasinya 

Krisis yang diakibatkan dari pandemi ini mampu memberikan pelajaran yang sangat berharga mengenai bagaimana dalam melakukan pendekatan dari sumber daya ke pasar secara inovatif. Pandemi juga akan bertindak sebagai katalisator dalam mendukung kolaborasi yang lebih besar lagi atas seluruh perusahaan pertambangan dikarenakan mampu menciptakan suatu kerja sama dalam mengembangkan kembali solusi yang kreatif dan juga gesit guna menghadapi masalah yang ada. Inovasi yang dimaksudkan bisa berupa pengembangan produk maupun teknologi baru, pengembangan insentif dari penerapan atas inovasi perangkat dan lain sebagainya.

(Part 2 ) Perusahaan Tambang Terbesar di Indonesia

Melanjutkan artikel yang sebelumnya, kami akan membahas sedikit artikel yang sebelumnya agar kalian tidak lupa dengan artikel sebelumnya mengenai apa. Kegiatan pasca penambangan berupa pengawasan dan pelestarian lingkungan, dilakukan secara berkelanjutan. Tentunya rangkaian proses industri pertambangan dilakukan secara benar dan tepat sesuai dengan ilmu pertambangan yang berlaku.

Menurut peraturan negara melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009, Pertambangan memiliki beberapa kelompok yakni pertambangan mineral logam, pertambangan mineral radioaktif, pertambangan mineral bukan logam dan pertambangan batuan.

Pertambangan mineral dan batuan sendiri dikelompokkan menjadi lima komoditas tambang yaitu, mineral radioaktif, mineral logam, mineral bukan logam, batuan dan batubara. Sejatinya ada ratusan situs tangkasnet perusahaan tambang di Indonesia yang menyumbang kontribusi untuk pembangunan  bangsa. Baik itu perusahaan tambang yang ada di Indonesia. Berikut perusahaan tambang batubara, nikel, maupun emas di Indonesia yang sudah kami rangkum untuk kalian ketahui.

Adaro Indonesia

Adaro Indonesia merupakan salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia. Perusahaan ini sudah berdiri sejak tahun 1966 dan mendapat konsesi dari Pemerintah Indonesia di wilayah di Kalimantan Selatan. Adaro Indonesia memiliki tiga pertambangan, yaitu Tutupan, Paringin dan Wara di area konsesi itu sesuai informasi di website perusahaan tambang ini.

Sepanjang tahun 2019, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) memproduksi batu bara mencapai 58,03 juta ton. Sementara itu pendapatan perseroan pada tahun 2019 sebesar US$ 3,46 miliar. Jumlah ini turun 4,42% dari pendapatan tahun 2018 yang tercatat US$ 3,62 miliar. Perusahaan tambang yang berkantor di Jakarta ini tercatat sebagai perusahaan terbuka. Sebesar 43% sahamnya dimiliki PT Adaro Strategic Investments, sementara sisanya dimiliki publik dan Garibaldi Thohir, saudara dari Erick Thohir.

Perusahaan Berau Coal

Nama perusahaan tambang di Kalimantan selanjutnya ada PT Berau Coal, yang juga termasuk salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1983 dan berpusat di wilayah Berau, Kalimantan Timur. Sebelumnya lebih dikenal dengan nama PT Risco dan berganti menjadi Berau Coal pada 2010.

Berau Coal bergerak di sektor pertambangan dan perdagangan batu bara. Selain itu, PT Berau Coal mendapat konsesi seluas 118.400 hektar di Kabupaten Berau, Samarinda, Kalimantan Timur. Kepemilikan perusahaan ini sebagian besar dikuasai Vallar Investment UK Limited, sementara sisanya dimiliki Sinarmas Group melalui Asia Resource Minerals Plc. Berau Coal mencatatkan produksi sebesar 26 juta metrik ton pada tahun 2016.

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)

ITMG merupakan salah satu raksasa batu bara di Indonesia dengan nilai kapitalisasi pasar dari mencapai Rp 11 triliunan pada Maret 2020. Sebesar 65 persen saham ITMG dipegang oleh Banpu Mineral Private Ltd, sebuah perusahaan yang berbasis di Singapura. Sementara sisanya diperuntukkan pada publik. ITMG dikenal tidak pelit soal urusan dividen karena sering membagikan dividen dalam jumlah besar per lembarnya.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA)


PT Bukit Asam Tbk dulunya bernama PN TABA lantas berubah nama setelah menjadi Perseroan Terbatas. Pada tahun 2002, perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu bara ini melantai di bursa saham. PTBA punya beberapa anak usaha seperti PT Bukit Pembangkit Innovative, PT Bukit Asam Prima, PT Bukit Energi Investama, dan beberapa perusahaan lainnya.

Inalum menjadi pemilik saham mayoritas perusahaan ini yakni sebesar 65,93 persen lalu 30,37 persennya sisanya diperuntukkan bagi publik. Nilai kapitalisasi pasar PTBA juga cukup besar yaitu Rp 28 triliun pada Maret 2020. Perusahaan ini berhasil membukukan laba Rp 4 triliun, walau pada tahun 2019 batu bara lesu,

PT Aneka Tambang Tbk


Perusahaan tambang di Indonesia tentu sudah dikenal banyak masyarakat khususnya bagi mereka yang suka berinvestasi emas. PT Aneka Tambang Tbk merupakan anak perusahaan BUMN pertambangan Inalum dan berdiri pada tanggal 5 Juli 1968. Kegiatan perseroan ini mencakup eksplorasi, penambangan, pengolahan serta pemasaran dari sumber daya mineral.

Pendapatan perseroan ini melalui melalui kegiatan eksplorasi dan penemuan deposit mineral, pengolahan mineral tersebut secara ekonomis, dan penjualan hasil pengolahan itu kepada konsumen jangka panjang yang loyal di Eropa dan Asia. Kegiatan ini telah berlangsung sejak perusahaan berdiri tahun 1968. Komoditas utama Antam berupa bijih nikel kadar rendah atau limonit, bijih nikel kadar tinggi atau saprolit, feronikel, emas, perak dan bauksit. Jasa utama PT Antam berupa pengolahan dan pemurnian logam mulia serta jasa geologi.

PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT)

PT Amman Mineral Nusa Tenggara merupakan perusahaan yang mengoperasikan tambang Batu Hijau. Perseroan ini juga punya beberapa prospek lain yang sangat menjanjikan di area konsesi tembaga dan emas yang terletak di Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara. Tambang Batu Hijau merupakan tambang tembaga dan emas terbesar kedua di Indonesia dan juga aset berkelas dunia.

PT Amman Mineral Nusa Tenggara telah memproduksi sekitar 3,6 juta ton tembaga serta 8 juta ounces emas, dengan massa tambang dan diikuti pengolahan stockpile jangka panjang. Fasilitas yang dimiliki juga lengkap termasuk armada peralatan tambang yang besar, pembangkit listrik tenaga batubara 112 MW, pelabuhan dengan terminal kapal feri, layanan udara, pabrik pengolahan dengan kapasitas 120.000 ton per hari, dan townsite yang tertata dengan baik.

PT. Arutmin Indonesia

Daftar perusahaan tambang di Indonesia lainnya yang berjaya pada 2019 ada PT. Arutmin Indonesia. Perusahaan ini beroperasi di bidang produksi batubara untuk pembangkit listrik dan pabrik-pabrik industri. Produk yang ditawarkan berupa batubara sub bituminous, batubara bituminous, dan produk batubara. Arutmin Indonesia mengelola pertambangan Senakin, Satui, Mulia, Asam, Asam dan Batulicin, semuanya berada di situs pertambangan terletak di Kalimantan Selatan.

Perusahaan yang didirikan pada tahun 1981 ini berpusat di Jakarta, Indonesia serta beroperasi sebagai anak usaha dari PT. Bumi Resources Tbk. Arutmin Indonesia termasuk salah satu perusahaan penghasil dan pengekspor batubara terbesar di Indonesia. Perseroan ini menandatangani kontrak penambangan batubara dengan Pemerintah Indonesia pada tahun 1981 yang dikenal dengan nama Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B).

PT J Resources Asia Pasifik Tbk


Perusahaan tambang di Indonesia selanjutnya ada PT J Resources Asia Pasifik Tbk yang berbasis di Indonesia dan bergerak dalam industri pertambangan emas. Perusahaan ini menginvestasikan dan mengelola usaha pertambangan emas beserta usaha logam mulia lainnya di kawasan Australia.

Beberapa tambang aktif berproduksi, sementara yang lainnya bergerak dalam fase pengembangan dan eksplorasi. PT J Resources Asia Pasifik Tbk memiliki produksi pertambangan emas, yang terletak di Penjom, Malaysia dan Lanud di Sulawesi Utara, Indonesia.

Selain itu, proyek eksplorasi Perusahaan terletak di Bulagidun, Bolangitang, dan Tembaga di Sulawesi Utara, Indonesia. PT J Resources Asia Pasifik Tbk juga bergerak dalam bidang pengadaan layanan katering, serta perdagangan umum, usaha transportasi dan perumahan. Anak perusahaannya bernama PT J Resources Nusantara yang bergerak dalam bidang perdagangan dan jasa.

Perusahaan Tambang Terbesar di Indonesia

Perusahaan besar tambang yang ada di Indonesia menjadi salah satu sektor yang paling terpenting karena menunjang banyak faktor dalam kehidupan negara.  Pasalnya perusahaan yang satu ini memproduksi sumber daya alam maupun kandungan mineral seperti pada pengolahan bahan bakar, mineral logam dan juga bebatuan. Aktivitas dari perusahaan tambang ini meliputi penyelidikan, penelitian, pengelolaan, eksploitasi, studi, pemurnian, pengangkutan dan juga penjualan. Semua aktivitas untuk mengelola sumber daya alam dilakukan oleh industri pertambangan.

Selain itu, kegiatan pasca penambangan berupa pengawasan dan pelestarian lingkungan, dilakukan secara berkelanjutan. Tentunya rangkaian proses industri pertambangan dilakukan secara benar dan tepat sesuai dengan ilmu pertambangan yang berlaku. Menurut peraturan negara melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009, Pertambangan memiliki beberapa kelompok yakni pertambangan mineral logam, pertambangan mineral radioaktif, pertambangan mineral bukan logam dan pertambangan batuan.

Pertambangan mineral dan batuan sendiri dikelompokkan menjadi lima komoditas tambang yaitu, mineral radioaktif, mineral logam, mineral bukan logam, batuan dan batubara. Sejatinya ada ratusan perusahaan tambang di Indonesia yang menyumbang kontribusi untuk pembangunan bangsa. Baik itu perusahaan tambang yang ada di Indonesia. Berikut perusahaan tambang batubara, nikel, maupun emas di Indonesia yang sudah kami rangkum untuk kalian ketahui.

PT Pertamina (Persero)

Pertama, ada PT Pertamina yang produknya tentu bersahabat dengan masyarakat Indonesia. Mulai dari produk bahan bakar minyak, pelumas, gas, dan sebagainya. Perusahaan yang bergerak di bidang industri minyak dan gas terbesar di Indonesia ini telah berdiri sejak 10 Desember 1957 dan berkantor pusat di Jl. Medan Merdeka Timur, Jakarta. Pertamina adalah transformasi dari PN Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Nasional dan sempat memonopoli pendirian SPBU di Indonesia sampai tahun 2000.

Perusahaan pertambangan di Jakarta ini mengelola tujuh kilang minyak dengan total kapasitas 1.051,7 MBSD, memiliki pabrik petrokimia dengan total kapasitas 1.507.950 ton per tahun, dan pabrik LPG dengan total kapasitas 102,3 juta ton per tahun. Terdapat pula produk olahan dari perusahaan tambang di Indonesia ini seperti bahan bakar minyak, bahan bakar non minyak, gas, pelumas dan petrokimia. Satu lagi bukti bahwa Pertamina merupakan raksasa pengolahan minyak dan gas yaitu dengan bertebarannya anak perusahaan di berbagai sektor industri cabang.

Selain itu terdapat sekitar 18 anak perusahaan pertamina yakni PT Pertamina EP Cepu, PT Pertamina Drilling Services Indonesia, PT Nusantara Regas, PT Pertamina EP, PT Pertamina Geothermal Energy, PT Pertagas, PT Pertamina Hulu Negeri, PT Pertamina Patra Niaga, PT Pertamina Trans Kontinental, PETRAL, PT Pertamina Retail dan PT Tugu Pertamina Indonesia, PT Pertamina Dana Ventura, PT Pertamina Bina Medika, PT Patra Jasa dan beberapa lainnya.

PT Kaltim Prima Coal – Perusahaan Tambang Batu Bara

PT Kaltim Prima Coal merupakan salah satu perusahaan tambang batubara tertua dan terbesar di Indonesia. Berkantor pusat di Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, perseroan ini tentunya masuk daftar perusahaan tambang di Kalimantan dan berdiri sejak tahun 1982. PT Kaltim Prima Coal memiliki lahan tambang batu bara seluas 84.938 hektar. Tapi pada tahun 2003, kepemilikan perusahaan ini berpindah tangan kepada PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan kepemilikan 100%.

Perusahaan tambang batubara ini memiliki 4.500 karyawan dan lebih dari 20.000 karyawan di bagian kontraktor. Selain itu, pertambangannya juga memiliki pembangkit sendiri yaitu PLTU berkapasitas 3×15 MW dan 2×5 MW. Terdapat pula Pembangkit Listrik Tenaga Uap sebanyak 18 MW yang diberikan kepada pihak PLN sebagai penerangan dan kebutuhan listrik warga Sangatta.

Sebagai salah satu perusahaan tambang batubara terbesar di indonesia, PT Kaltim Prima Coal mengalami kenaikan produksi dari tahu ke tahun. Pada 2018, perseroan ini berhasil memproduksi sebanyak 58 juta ton batubara, tahun 2019 sebanyak 62 ton, dan pada tahun ini juga diprediksi akan naik.

PT Freeport Indonesia

Kamu tentu tidak asing dengan PT Freeport Indonesia, perseroan tambang emas di Indonesia. Perusahaan ini mengelola tambang Grasberg yang merupakan tambang emas terbesar di dunia dan tambang tembaga ketiga terbesar di dunia. Tentunya hal itu melambungkan nama Perusahaan diresmikan sejak tanggal 7 April 1967 ini di jagat internasional.

Pemerintah Indonesia sudah mengambil bagian sebesar saham Freeport sebesar 51% dengan tebusan sebesar Rp 56,1 triliun. Sebelumnya pemerintah sudah melakukan beberapa kali kontrak dengan Freeport yakni kontrak pertama pada tahun 1967 dengan saham pertama Indonesia sebesar 9,36% lalu dilanjutkan kontrak II di tahun 1991. Perusahaan tambang yang beroperasi di Papua ini memberikan dukungan berupa investasi untuk pembangunan Papua selama 2012 sejumlah USD 110,9 juta.

Selain itu, terdapat pula program pengembangan sosial senilai USD 68,14 juta dan program pengembangan masyarakat sejumlah USD 39,26 juta. Alokasi dana investasi itu masih ditambah dengan USD 600 juta dalam bentuk infrastruktur sosial seperti asrama siswa, rumah sakit, dan sekolah. Bisa bekerja di PT Freeport Indonesia merupakan impian banyak anak teknik, tak jarang banyak yang menantikan lowongan kerja perusahaan tambang asing di Indonesia ini.

PT Agincourt Resource

Perusahaan tambang di Indonesia selanjutnya yang patut kamu ketahui adalah PT Agincourt Resource. Perusahaan yang beroperasi di bidang tambang mineral ini berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan mineral bagi masyarakat serta menjalani berbagai program CSR dan produktivitas yang handal. PT Agincourt Resource punya tambang emas bernama Martabe yang luasnya mencapai 130.300 hektar di pesisir barat Provinsi Sumatera Utara. Perusahaan yang berkantor pusat di Pondok Indah Jakarta ini mengelola hasil alam berupa mineral emas batangan dan perak.

Perusahaan tambang ini mengelola sumber daya alam dengan jumlah 7,8 juta ounce emas dana 64 juta ounce perak. Kapasitas operasi tambang emas di Martabe mencapai lebih dari 5,5 juta ton bijih per tahun dan mampu menghasilkan 350.000 ounce emas serta 2-3 ounce perak per tahun. Profil dan website perusahaan tambang ini juga menyebut bila terdapat lebih dari 3.000 karyawan dan kontraktor. Total dari 99% diantaranya merupakan warga negara Indonesia dan lebih dari 70% diantaranya direkrut dari penduduk setempat.

PT Vale Indonesia Tbk

Perusahaan tambang di Indonesia berikutnya ada PT Vale Indonesia Tbk yang berkecimpung di industri pertambangan nikel. Hal ini sesuai naungan kontrak karya yang diubah pada tanggal 17 Oktober 2014 yang berlaku sampai 28 Desember 2025. Vale beroperasi atas penanam modal oleh asing dan memiliki luas operasi lahan perseroan seluas 118.017 hektar meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.

Hasil nikel dari Vale diimpor kepada Jepang sesuai perjanjian antar kedua negara. PT Vale Indonesia juga kerap melakukan reklamasi dan rehabilitasi di bekas lokasi tambang sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat setempat. Hal ini untuk menjamin kondisi lingkungan di sekitar lokasi penambangan sehingga masyarakat tidak khawatir apalagi terancam.

Pertambangan yang ada di Indonesia dari zaman VOC hingga Orde Baru

Cerita yang sangat panjang pada sejarah penguasaan sumber daya alam (SDA) yang ada di Indonesia yang dapat kita lacak setidaknya dari kedatangan Vereenigde Oost Indische Compagnie atau VOC abad ke-16 di kepulauan Indonesia. VOC ini yang dikenal dengan sebutan kompeni adalah rombongan dari para pedagang yang bersenjata yang memiliki sebuah tujuan untuk memperluas area dagang mereka ke dunia-dunia baru yang ada di luar Eropa. Hal pertama yang dilakukan VOC adalah menguasai kantong-kantong ajaib yang menjadi pusat dari keberadaan sumber daya produktif rakyat di kepulauan Indonesia dengan cara menjadikan struktur lama feodal sebagai perpanjangan kaki tangan VOC di wilayah-wilayah produktif tersebut. Tindakan VOC ini dilakukan dengan mengeruk SDA dan menjadikan rakyat di kepulauan Indonesia sebagai tenaga kerja bagi keuntungan perdagangan mereka. Berjalannya cara-cara kerja VOC ini erat kaitannya dengan bagaimana kebijakan-kebijakan tentang SDA yang ditetapkan di kepulauan Indonesia saat itu dengan berbagai bentuk dan dinamika.

Pada awal Mei 1662, VOC, perusahaan multinasional asal Belanda menduduki Pulau Cingkuak (Poulo Chinco).

Penguasaan oleh VOC didasarkan konsesi untuk berdagang di Sumatra’s Westkust melalui Perjanjian Painan (W.J.A. de Leeuw, Het Painansch Contract. Amsterdam: H.J. Paris, 1926). VOC menguasai Cingkuak pada tahun 1662 dan menjadikan pulau kecil itu sebagai jangkar untuk menduduki Kota Padang. Pulau ini juga digunakan hingga lebih satu abad kemudian sebagai loji untuk keperluan perdagangan lada dan pala, bahkan mengelola tambang emas Salido.

Penjajahan Jepang

Beralih ke masa invasi Jepang ke Indonesia. Pada masa itu, kantong-kantong industri Belanda sengaja dihancurkan dengan politik “Bumi Hangus”, sehingga situs slot mpo pada masa-masa itu pertambangan Belanda tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk digunakan oleh penjajah Jepang.

Segala dokumen Dienst van den Mijnbouw diganti namanya oleh Jepang menjadi Chisitsu Chosasho.

Tidak banyak dokumen tentang pertambangan di masa kolonial Jepang yang hanya tiga tahun menduduki Nusantara. Salah satu peninggalan Jepang yaitu tambang batubara di Bayah, Banten, yang saat itu dikelola oleh Bayah Kozan Sumitomo Kabushiki Kaisha.

Setelah Agresi Militer II

Ketika Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya tahun 1945, para “founding fathers” yang ada di negara Indonesia, sadar betul dengan kondisi kekayaan alam yang ada di atas dan di dalam bumi pertiwi ini, dan dari basis kekayaan itulah Indonesia dan rakyatnya diandalkan untuk membangun Bumi Indonesia bagi kemaslahatan rakyat Indonesia.

Pertambangan di era Presiden Ir. Soekarno tidak berkembang pesat karena dia anti terhadap kapitalisme-imperialisme. Namun, peninggalan data-data Belanda berupa tempat-tempat potensial untuk pertambangan menjadi modal untuk pengembangan kegiatan pertambangan. Indische Mijnwet diganti dengan Undang-Undang RI Nomor 37 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan. Perpu ini menganut ekonomi berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), tidak memperdulikan perkembangan pertambangan di dunia.

Penanaman modal asing sama sekali ditutup, sesuai dengan UU No. 78 Tahun 1958 tentang penanaman modal asing yang berlaku saat itu.

Presiden Ir. Soekarno ingin semua kekayaan alam Indonesia dikelola oleh insinyur-insinyur Indonesia sendiri. Sejak awal, dalam UUD 1945, perihal kekayaan alam yang dieksplisitkan dengan kata-kata “Sumber Daya Alam” menjadi objek pengaturan tersendiri di dalam pasal 33 ayat 3 yang di sana diatur tentang “penggunaan sumber daya alam itu, untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat Indonesia. UU N0.44/1960. Tahun 1963, geolog Freeport Forbes Wilson dan Del Flint melakukan ekspedisi kembali ke Irian Jaya, setelah mendengar kabar geolog Belanda Dozy yang menemukan gunung yang mengandung bijih tembaga dan emas.

Periode Orde Baru

Titik penting yang dapat dilihat pada awal pemerintahan Orde Baru ini adalah diterbitkannya Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1966, yang menyatakan tentang bergabungnya kembali Republik Indonesia dalam International Monetary Fund (IMF) dan International Bank for reconstruction and Development.

Dengan asistensi ekonom-ekonom IMF, Pemerintah Orde Baru mengeluarkan tiga undang-undang yang berkaitan dengan SDA pada 1967, yang dikenal sebagai “Paket 1967”, yaitu, pertama UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, kedua, pada 24 Mei 1967 diterbitkan UU No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan; dan ketiga pada 2 Desember 1967 dikeluarkan Undang-Undang Pokok Pertambangan (UU No. 11 Tahun 1967). Tanggal 5 April 1967 dilakukan penandatangan kontrak karya (KK) antara Freeport Sulphur Company (FCS) dan pemerintah Indonesia. Pada periode 1967-1972 terdapat US$ 2488,4 juta penanaman modal asing masuk di Indonesia (di luar perbankan).

Manfaat Sumber Daya Alam

Dalam pemanfaatan sumberdaya alam di sektor pertambangan mineral dan galian mulai muncul pada tahun 1669 di Salido Sumatera Barat pada masa jabatan Commandeur Jacob Joriszoon Pit, yang menjabat 1667 hingga 23 Mei 1678. Pit adalah commandeur VOC ketiga untuk pos Padang. VOC mendatangkan untuk pertama kalinya dua ahli tambang di Salido bernama Nicholas Frederich Fisher dan Johan de Graf yang berasal dari Hungaria, bersama dengan para buruh yang berasal dari budak-budak yang dibawa VOC dari Madagaskar dan tawanan perang (krijgsgevangenen) dari daerah sekitarnya. Menurut J.E. de Meyier dalam De goud-en zilvermijn Salido ter Sumatra’s Westkust, De Indische Gids 32.1 (1911) disebutkan bahwa budak-budak dari Nias juga dipekerjakan di tambang itu. Kala itu Fisher dan Johan de Graff meyakinkan VOC bahwa eksploitasi tambang Salido akan memberi banyak keuntungan.

Akhirnya, Juli 1679, VOC kembali mendatangkan ahli tambang ke Salido. Ia seorang insinyur bernama Johann Wilhelm Vogel asal Jerman. Selama bekerja di Salido Johann Wilhelm Vogel menulis buku berjudul Zeven j hrige Ost – Indianische Reise – Beschreibung, Altenburg: J.L. Richter, diterbitkan tahun 1707. Buku ini menceritakan pengalamanya selama bekerja di tambang Salido. Setelah Johann Wilhelm Vogel, VOC kembali mendatangkan ahli bebatuan gunung, Benjamin Olitzsch, bersama dengan seorang asisten bernama Elias Hesse. Tapi malang bagi Benjamin Olitzsch, ia meninggal pada 28 Mei 1682 di Salido karena sakit. Jenazahnya dimakamkan di Pulau Cingkuak. Setelah Wilhelm Vogel, pengelolaan tambang Salido digantikan oleh Gabriel Muller. Pada masa Muller Tambang Salido mengalami kemunduran. Kehidupan di tambang itu makin buruk.

Saat itu Belanda sedang berperang dengan Perancis. Kondisi ini berdampak pula ke negeri-negeri jajahannya. Akhirnya tambang Salido terpaksa ditutup.

Pada tahun 1724, VOC kembali membuka tambang Salido dengan mendatangkan seorang ahli asal Jerman bernama Mettenus dengan asistennya bernama Weinberg. Usaha membuka tambang Salido kali ini ternyata hanya sia-sia. VOC mengalami kerugian, dan akhirnya tambang Salido kembali ditutup. Antara tahun 1732 hingga 1733, hasil tambang Salido dilaporkan meningkat, rata-rata per ton batu tambang mengandung bijih emas senilai f 1350. Menurut dari R.J. Verbeek, yang menulis beberapa buku tentang Tambang Salido (Verbeek 1880 dan 1886) antara tahun 1669 hingga 1735, tambang Salido sudah menghasilkan 800 ton bijih emas, dengan nilai f 1.200.000 atau rata-rata f 1.500 per ton. Tahun 1710, Kesultanan Palembang kemudian bekerja sama dengan VOC untuk penjualan hasil timah di Bangka. Tahun 1717, VOC telah melakukan ekspor timah dalam jumlah kecil ke Eropa, tetapi kegiatan ini hanya berlangsung hingga 1755.

Masa Penuh godaan ! Hasil yang Gemilang yang Telah Mengantarkan Perusahaan Pertambangan !

Meskipun sudah tidak ada lagi perusahaan tambang yang berasal dari Indonesia yang menembus batas sebuah kapitalisasi pasar yang memiliki nilai sekitar US$5,3 miliar dan mulai masuk ke dalam kategori 40 perusahaan tambang yang terbesar yang ada di dunia pada tahun 2017, industri pada pertambangan yang ada di Indonesia juga telah menunjukkan bahwa kinerja yang sangat baik seiring pada pemulihan harga komoditas dan peningkatan pada permintaan komoditas secara global.

“Dalam laporan yang ada ini, kita melihat bahwa adanya pendekatan yang sangat tepat, terukur, dan penuh kesabaran dari sebuah perusahaan-perusahaan pertambangan dalam menentukan sebuah strateginya masing-masing untuk memberikan nilai untuk jangka panjang. Hal ini sangat konsisten dengan peningkatan kinerja yang ada pada industri pertambangan yang ada di Indonesia, yang telah mengikuti pulihnya harga yang ada pada komoditas dan permintaan komoditas secara global yang akan semakin kuat.”

Sudah ada terdapat pemulihan yang sangat patut dicatat pada kapitalisasi pasar saham pertambangan yang sudah terdaftar di BEI selama pada tahun 2017 yang sudah mencapai sekitar Rp 310 triliun mulai per tanggal 31 Desember 2017, atau meningkat sebesar 17% jika dibandingkan dengan posisi per tanggal 31 Desember di tahun 2016. Kenaikan yang terjadi ini terutama berasal dari saham batubara yang sudah naik sebesar 27%. Tren ini mulai berlanjut hingga di tahun 2018 yang di mana kapitalisasi pasar dari perusahaan pertambangan batubara dan mineral mengalami sebuah kenaikan lagi masing-masing sekitar kurang lebih 9% dan 18% pada tanggal 30 April 2018.

“Usaha pada pertambangan telah mengandung banyaknya sebuah risiko. Walaupun pada risiko-risiko ini akan sangat berbeda-beda berdasarkan hasil lokasi tambang, yurisdiksi, pada perusahaan. Indonesia, seperti negara yang lainnya, masih memiliki pekerjaan rumah yang harus mereka selesaikan. Menurut pemetaan yang beresiko pada kami, kepastian regulasi ini akan menjadi salah satu hal yang paling utama yang perlu mereka tingkatkan dalam lingkungan investasi pertambangan yang ada di Indonesia,” Winzenried menambahkan.

Sekitar ada empat puluh perusahaan tambang yang terbesar yang ada di dunia akan menunjukkan hasil kinerja pada keuangan yang sangat mengesankan di tahun 2017 lalu, yang dimana pendapatan mulai meningkat hingga 23 persen yang kini menjadi USD $600 M, menurut laporan Mine 2018 PwC yang telah terbit pada tanggal 5 Juni 2018 silam.

Analisis laporan tersebut telah memastikan bahwa adanya peningkatan dalam siklus pertambangan, yang telah didorong oleh pertumbuhan ekonomi global yang kini semakin meningkat dan pada pemulihan harga komoditas. Dibantu dengan strategi-strategi penghematan pada biaya yang sangat tajam dan selama beberapa tahun terakhir ini, margin dan juga pada kemampuan perusahaan-perusahaan tambang untuk menghasilkan pendapatan kini telah meningkat secara signifikan, yang berujung pada lonjakan laba bersih kurang lebih sebesar 126 persen.

Proyeksi pada tahun 2018 kami mengindikasikan bahwa adanya peningkatan kinerja keuangan dari 40 perusahaan tambang yang sudah terkemuka akan terus berlanjut seiring manfaat yang terus mereka nikmati ini dari momentum yang sudah naik dalam siklus pertambangan ini.

Neraca Keuangan yang Sehat

Perusahaan pertambangan akan terus berfokus pada penguatan neraca keuangannya di tahun 2017, yang dimana sekitar $25 M telah dialokasikan untuk pelunasan utang yang dimiliki oleh perusahaan, dan pengeluaran pada modal pun telah mencapai rekor yang terendahnya di angka sekitar $48 M. Sebagai hasilnya, angka gearing ini turun dari 41 persen kini menjadi 31 persen, atau kembali sejajar dengan rata-rata yang terjadi pada 15 tahun lalu dari neraca keuangan dari 40 perusahaan tambang yang terbesar tersebut.

“Dengan telah diselesaikannya sebagian besar yang sangat dikhawatirkan terhadap likuiditas yang pada saat itu masih tersisa di tahun 2016, neraca keuangan kini menjadi lebih kuat, dan perusahaan-perusahaan kini sudah mempunyai keleluasaan untuk mulai bertindak. Walaupun kita berharap akan melihat peningkatan pada pertumbuhan peluang di tahun 2018, perusahaan-perusahaan tambang yang sangat cermat harus berupaya menghindari kesalahan-kesalahan yang telah terjadi di masa lalu dan akan mengikuti rencana strategi pada pertumbuhan agar dapat menghindari dari serbuan gila-gilaan terhadap sumber daya yang ada di puncak siklusnya,” hal ini yang dikatakan oleh  O’Callaghan.

Rekor peningkatan tertinggi dalam kontribusi pajak

Pengeluaran pada pajak mulai meningkat hingga 81 persen di tahun 2017, yang dimana pajak tunai yang dibayarkan kepada pemerintah sangat meningkat hingga 67 persen, walaupun tarif pada pajak badan masih relatif stabil yang ada di sebagian besar pasar-pasar utama.

Lonjakan pada pengeluaran pajak sebagian besar didorong oleh kenaikan pada laba dan juga pada dampak reformasi pajak AS, yang mengalami sebuah peningkatan yang jarang sekali terjadi sekitar sebesar 4 persen (atau dikatakan sebesar $2,8 M) dalam tarif pajak efektif akibat dari revaluasi pajak tangguhan. Diharapkan kedepannya pada reformasi pajak AS akan meringankan sebuah beban pajak pada perusahaan-perusahaan tambang yang menjalankan usaha nya di AS.

Untung yang sangat besar bagi para pemegang saham akan berlanjut, namun sampai kapan?

Imbal dari hasil para pemegang saham mulai meningkat hampir dua kali lipat dari tahun yang sebelumnya (year-on-year), dari yang sekitar $16 M di tahun 2016 ini menjadi $36 M. Dengan tingkat kinerja yang ada pada saat ini, dividen dapat mencapai rekor yang tertinggi di tahun 2018.

“Para pemegang saham yang bertahan untuk melewati siklus-siklus boom yang ada di tahun 2008 dan juga di tahun 2012 akan mulai bersemangat untuk menuai imbalan atas kesabaran yang mereka miliki, karena pada saat ini optimisme dan laba telah kembali pulih. Namun ada godaan di depan mata untuk memperoleh imbal hasil yang lebih besar lagi bagi para pemegang saham yang ada atau pemangku kepentingan yang lainnya juga harus diimbangi dengan kebutuhan yang mereka miliki untuk terus berinvestasi demi nilai jangka panjang yang akan berkelanjutan,” ini yang dikatakan O’Callaghan.

Para pendatang baru mencoba peruntungannya

Di tahun 2017 yang lalu, ada banyak pendatang baru yang mulai aktif dalam sektor pertambangan. Para investor swasta (Private Equity) misalnya itu, akan sangat tertarik pada peluang investasi pertambangan dan akan menjadi peserta aktif dalam hampir setiap transaksi batubara yang berkualitas yang akan ditawarkan pada pasar Australia selama tahun berjalan.

Bahkan sudah ada juga beberapa contoh dari perusahaan non-tambang yang mulai bermitra dan melakukan merger dengan perusahaan-perusahaan tambang untuk mengamankan sebuah akses terhadap komoditas. Sebagai contoh yang ada itu seperti, Agrium, sebuah perusahaan grosir dan retail pada pupuk dan juga bahan kimia yang berasal dari Kanada, yang melakukan merger dengan produsen potas yang terbesar di dunia, PotashCorp, sedangkan Tesla akan terus berinvestasi dalam pasokan litium, hal ini termasuk transaksi mereka yang baru-baru ini dengan Kidman Resources di Australia.

“Dari kami akan memperkirakan bahwa apakah ada minat dari para pemain non-konvensional dan akan terus meningkat di tahun 2018 dan bahkan setelahnya pun akan terus meningkat, secara khusus karena memiliki kondisi untuk menjalankan sebuah usaha terus membaik. Walaupun juga ada beberapa perusahaan tambang incumbent yang akan memandang para pendatang baru ini sebagai suatu ancaman yang baru, perusahaan-perusahaan yang lain akan berupaya memanfaatkan ide-ide, atau modal, dan cara-cara yang baru, mereka akan memberikan nilai secara jangka panjang,” hal ini yang diungkapkan O’Callaghan.

Adakah Tambang Besar Indonesia selain di Kawasan Papua ?

Indonesia dikenal dengan kebudayaan yang beragam – suku dan ras yang melimpah – kerajinan batik yang sudah membudaya hingga luar negeri dan berbagai macam lagi yang lainnya. Sebab itulah, Indonesia sudah sangat terkenal sebagai negara dengan keramahtamahan akan keanekaragaman budaya itu sendiri. Selain itu, Sumber Daya Alam yang melimpah di Indonesia memang bisa diketahui adalah tambang Emas. Nah sebagai informasi dasar saja, jika Indonesia sendiri sudah masuk ke dalam jajaran negara penghasil tambang emas terbesar yang ada di dunia, dan salah satunya ada di kawasan Papua. 

Tentu saja hal ini mampu diperkuat oleh adanya tambang emas yang banyak dan sudah tersebar ke pelosok negeri. Emas yang ada di Indonesia sendiri sudah dikenal oleh dunia luar sebagai tambang yang memang memiliki kualitas sangat baik dan memiliki bentuk dari pengelolaan yang sangat baik. Lalu selain kawasan atau daerah papua, adakah daerah lainnya yang memang menjadi tempat dari berdirinya tambang emas terbaik di Indonesia ? atau salah satunya menjadi tempat kalian tinggal saat ini ? untuk itu, yuk kalian cek daftar s128
siapa tahu itu menjadi ladang usaha kalian kedepannya dan bisa membawa kalian jadi pebisnis yang jauh lebih baik. 

Kawasan Papua di Grasberg – Indonesia Timur 

Beautiful Place memang ada di Papua. Tak hanya menjadi surganya mata, nyatanya Papua sendiri sudah masuk ke dalam surganya bagi dunia pertambangan emas terbesar yang ada di dunia hingga saat ini sudah bisa memiliki tambang bawah tanah itu sendiri. Namanya adalah Tambang Grasberg yang mana langsung saja dikelola oleh perusahaan asal Amerika Serikat yakni Freeport Mcmoran dan bisa berhasil untuk memproduksi 3 Juta Konsentrat untuk per tahunnya. Nah dari konsentrat ini sendiri dinilai dari pasir olahan dari batuan tanbang atau Ore yang sudah mengandung tembaga – emas dan juga perak. 

PT. Freeport Indonsia - Papua

Nah berdasarkan dari laporan perusahaan tersebut, dikatakan pada tahun 2014 silam setidaknya kalian bisa melihat adanya sisa 28,2 juta ons emas dengan adanya cadangan emas dari keseluruhan 54,8 juta ons emas itu sendiri. Selain itu, untuk Tony Wenas yakni Presiden Direktur Pt. Freeport yang ada di Indonesia sudah mengatakan bahwa data pada tahun 2018 sudah menemukan adanya jumlah produksi yang dihasilkan Freeport ini bisa mencapai 6.065 ton konsentrat per harinya. 

Dimana untuk setiap toon Konsentratnya sendiri senilai 26,5% yakni Tembaga dengan berat mencapai 39,34 gram saja bagi emas, dan terakhir untuk perak hanya 70,37 gramnya saja. Sehingga menurutnya hal ini berhasil bagi produksi emas yang mana mencapai 240 kg per harinya dari kawasan Papua itu sendiri. Untuk Freeport ini memiliki tambang tembaga dan juga emas bawah tanah terbesar yang ada di dunia dan akan terus dikembangkan nantinya. Beruntung deh bagi yang tinggal di kawasan ini. 

Kawasan Banyuwangi di Tujuh Bukit – Indonesia Barat

Namanya sendiri adalah Tujuh Bukit atau jauh lebih dikenal dengan Tumpang Pitu. jadi ini adalah daerah yang memang adanya di Banyuwangi, yakni masih di kepulauan Jawa. dimana daerahnya masuk ke dalam nominasi ke 2 terbesar yang ada di Indonesia dan termasuk terbesar yang ada di dunia. Tambangnya sendiri memiliki letak di Kabupaten Banyuwangi – Jawa Timur dan dikelola langsung oleh PT. BSI atau Bumi Suksesindo. Penambangannya sendiri sudah mulai dibuka di daerah tersebut dari tahun 2016 dan sudah diperkirakan kurang lebihnya ada sekitar 28 juta ons emas yang memang ada di dalamnya. Beruntung deh bagi yang tinggal di kawasan ini. 

Kawasan Halmahera Sulawesi Utara – Indonesia Timur 

Nama dari lokasi dilakukannya penambangan emas ini adalah Gosowong. Dimana disana sudah dikenal dengan pengelolaan oleh Badan Usaha Milik Negara atau BUMN yang ada di bawah naungan dari Pt. Aneka Tambang ( ANTAM ). Dengan hasil tambang terakhir sudah tercatat kurang lebihnya sebesar 20 juta ons biji emas, dari sejak pertama kali dibuka pada 20 tahun yang lalu kurang lebihnya. PT. Antam ini sendiri juga sudah menjalin adanya kerjasama dengan pihak asing yakni dari Perusahaan Newcrest. Beruntung deh bagi yang tinggal di kawasan ini. 

Kawasan Kalimantan Tengah – Indonesia Barat

Nama daerah dari tempat ini adalah pujon. Memang bisa diketahui sejak jaman dulu Tanah Borneo atau Kalimantan sudah menjadi Primadona dunia berkat adanya kekayaan sumber daya alamnya yang sangat amat luar biasa. Dan salah satunya yang masih ada adalah tambang emasnya. Di Daerah ini juga sudah dilakukan proyek penambangan emas di wilayah Kapuas yakni Kalimantan Tengah. Dan diperkirakan juga bahwa tambang emas Pujon sendiri masih lho memiliki cadangan emas hanya untuk bertahan di beberapa puluh tahun kedepan nantinya. Beruntung deh bagi yang tinggal di kawasan ini. 

Kawasan Sumbawa Nusa Tenggara Barat – Indonesia Timur 

Namanya adalah Batu Hijau. Setidaknya pada kawasan ini kalian akan melihat 2,77 juta ons emas mentah yang mana sudah berhasil untuk bisa didapatkan dari lokasi penambangan tambang emas batu Hijau itu sendiri. Dimulai langsung di buka pada tahun 2000 yang lalu. Dengan menyimpan banyak sekali potensi besar yang memang bisa dihasilkan tersebut, akan membuat tambang emas batu hijau ini dilirik oleh beberapa negara tetangga lainnya. 

Sebelum bisa dikenal dengan nama Amman Mineral, banyak sudah yang mengetahui hadirnya perusahaan dari tambang emas ini sebagai PT. Newmont Nusa Tenggara. Produksi dari emas tambang batu hijau ini juga sudah mencapai hingga 100 kg Oz emas dan selebihnya 197 juta Pound untuk tembaga dalam hitungan per tahunnya. Hingga kini, Amman sendiri sedang melakukan adanya fase ke tujuh atau pada tahapan akhir untuk melakukan penambangan batu Hijau dan nantinya bisa menghasilkan produksi hingga mencapai di angka 4,47 miliar pon tembaga dan mencapai di angka 4,12 juta ons emas pada akhir tahun 2020 ini atau bisa jadi di awal tahun 2021 nanti. Lihat saja bagaimana kedepannya ya guys. Beruntung deh bagi yang tinggal di kawasan ini. 

Kawasan Sumatera Utara – Indonesia Barat 

Namanya adalah martabe, dimana tambang emas ini ada di Sumatera Utara yakini di bawah dari naungan PT. United  Tractors Tbk UNTR. untuk perusahaannya sendiri memang berhasil dalam melakukan akuisisi dan juga sudah resmi menjadi pemilik dari saham pada PT. Agincourt Resource dengan adanya jumlah saham mencapai kurang lebihnya 95%. Dan untuk tambang emas ini sendiri sudah berhasil dalam memproduksi tambang emas sekitar level 300.000 hingga level di 350.000 ons dalam per tahunnya. 

Tambang emas Freeport sendiri yang ada di Papua memang sudah menjadi salah satu tambang Terbesar yang ada di dunia. Selain ada emas, tambangnya juga memiliki kandungan biji lainnya yakni untuk Tambang Tembaga dan Perak. Untuk para Presiden Joko Widodo sendiri menegaskan bahwa PT. Freeport yang ada di Indonesia ini sudah dikuasai Pemerintah Indonesia sebesar 51,23 % saja dan sudah resmi untuk beralih ke PT. Inalum yakni Induk dari Holding pertambangan. Sudah pasti, dalam hal ini kalian sangat bangga dong sudah masuk ke dalam bagian dari negara Indonesia. Beruntung deh bagi yang tinggal di kawasan ini.

Dampak Bisnis Tambang Akibat Menyebarnya Virus Corona

Dunia pertambangan yakni berbagai macam bisnis yang ada, mengalami dampak nyata akibat datangnya wabah corona yang menyerang Indonesia hingga detik ini. Menurut WHO, jika adanya Virus Corona atau Covid-19 ini menjadi sebuah pandemi besar yang mana sudah menyebar ke seluruh dunia, termasuk sampai detik ini masih saja terus bergulir di negara Indonesia. Nah kasus dari Covid – 19 saja sudah ada sejak bulan April tanggal 9 tahun 2020 yang mana sudah menginfeksi lebih dari 1 juta penduduk yang berada di dunia. Terutama sekali di China, yang mana sudah ada sejak bulan Desember akhir di tahun 2019 silam dan mulai menyebar ke beberapa negara lainnya di tahun 2020 pada awal bulan Januari silam. 

Dari kehadiran virus ini, sudah pasti membawa banyak sekali dampak bagi dunia. Termasuk, untuk struktur pertumbuhan perekonomian dan bisnis-bisnis yang ada. Tanpa terkecuali, bisnis di sektor pertambangan juga sudah mengalami hal tersebut, dengan diisi oleh beberapa dampak nyata yang ada di dalamnya. Berikut ini akan kami beritahukan adanya beberapa dampak dari bisnis pertambangan yang pastinya akan memperlambat ekonomi di setiap pekerjanya. 

Berikut ini, adalah beberapa dampak utama yang bisa kalian ketahui dari sektor pertambangan. Dan sedikitnya akan kami beritahukan juga, bagaimana sebenarnya profesi dari dunia pertambangan itu sendiri pada resiko-resiko yang bisa dialami oleh para pekerjanya. 

3 Dampak Utama Hadirnya Corona yang Memperlambat Bisnis Tambang 

Produksi yang ada akan Berkurang – dan dari beberapa negara yang memang sudah melakukan lockdown seperti halnya negara China, lalu India sebagai salah satu negara dengan adanya dampak corona terburuk yang ada di luar China seperti Italy, mereka semua melakukan lockdown yang sudah disesuaikan oleh pemerintahnya masing-masing. Otomatis, dari sini usaha produksi tersebut harus berhenti akibat supply dari beberapa komoditas mengalami penurunan. 

 

Permintaan mengalami Penurunan – dari adanya sektor pertambangan terutama sekali pada sektor batu bara sudah menjadi salah satu sektor komoditas pertambangan yang mana mampu mengalami dampak terbesar dari adanya pandemik ini. Sudah bisa dipastikan permintaan terbesar yang biasanya memang berasal dari negara China – Korea dan negara India, sudah mengalami penurunan yang drastis dari hadirnya permintaan terutama sekali bagi Support kepada industri yang mereka jalani. Virus Corona sendiri akan berdampak terhadap pertumbuhan permintaan dikarenakan perlambatan ekonomi di negara Importir batu bara seperti China dan juga Korea akibat adanya penyebaran Virus Corona itu sendiri. Hal ini sudah pasti akan diakibatkan oleh adanya kebijakan Lockdown yang akan membuat industri di negara itu melambat dalam kurun beberapa waktu. 

Prospek Kedepannya seperti apa ? jadi dari hadirnya beberapa perusahaan yang mulai sekali Khawatir akan adanya keadaan pasar yang memang kurang stabil setelah adanya musim penghujan yang hampir saja selesai. Artinya dalam hal ini sudah masuk ke dalam musim panas yang mana peningkatan dari produksi namun dengan adanya pandemic ini, maka akan berakibat pada sektor pertambangan dikarenakan tidak adanya kepastian kapan pandemi ini bisa berakhir nantinya. Hal inilah yang akan memberikan kewaspadaan pada setiap perusahaan di masa yang akan datang untuk sektor-sektor berikutnya. 

Semua ini memang tak hanya terlihat dari bisnis pertambangan saja, beberapa bisnis lainnya juga terlihat atas dampak menyebarnya virus corona itu sendiri. Terkecuali, di bisnis kuliner yang sepertinya masih berjalan sesuai dari kebutuhannya manusia. Hanya saja, ada sedikit penurunan apstinya akibat pandemi tersebut. 

Resiko atas Keselamatan Kerja pada Pekerja Tambang 

Selama ini kalian mungkin melihat dunia pertambangan bisa membawa Profit yang baik bagi perekonomian, namun kalian harus melihat ada sisi pahit dari para pekerja tambang itu sendiri. Diman mereka selaku pekerja alias penggali tambang akan memiliki ruang kerja terbatas, dimana mereka akan bekerja di bawah tanah dengan meniscayakan adanya lingkungan yang sangat jauh berbeda dibandingkan kerja normal pada umumnya di atas permukaan. Dari sini kalian harus menghitung adanya besar pada bukaan terowongan secara cermat agar nantinya bisa jauh lebih efisien dari sudut biaya yang ada dan akan melihat keamanan ini dari pertimbangan teknis. 

Dan bisa ditarik kesimpulan jika para pekerja dituntut untuk bekerja dalam lingkungan yang memang terbatas. Dan terbatasnya akan ruang sudah sangat jelas sekali akan mempertinggi resiko yang mampu mengancam keselamatan para pekerja itu sendiri. Dan ini masih termasuk ke dalam penyebab atas kecelakaan yang lumayan tinggi diakibatkan terbatasnya ruang itu sendiri. 

Minimnya Penggunaan Cahaya, Menimbulkan Resiko Kecelakaan 

Karena penggali tambang ini juga harus bekerja di dalam perut bumi, berarti mereka harus siap untuk bekerja tanpa terkena sinar cahaya matahari. Nampaknya mereka hampir tidak mengenal mana Siang hari dan mana Malam hari, because almost same. Cahaya yang didapatkan hanya pada bantuan lampu penerangan yang masih minim sekali. Bahkan beberapa dan mungkin saja hampir seluruh pekerja galian tambang ini hanya mengandalkan lampu kepala yang telah di pasang di helm para pekerja itu sendiri. Sebab itu, para pekerja tidak diperbolehkan sendirian, justru harus membawa kawan untuk antisipasi saja. 

Batuan yang Dilewati Mudah Rapuh 

Kami katakan jika batuan yang rapuh menjadi musuh besar bagi dunia pertambangan, termasuk bagi para penggali itu sendiri. Banyak juga penggali yang memperkuat batuan ini dengan menyangga, namun tetap saja mewaspadai diri akan kehadiran kecelakaan yang tak terduga akibat batuan yang rapuh tersebut. Bauan kecil saja mungkin masih standar, namun jika batuannya 4x lipat dari tubuh manusia ? apa yang akan terjadi coba ? untuk itu, meminimalisirkan resiko ini dengan memakai penyangga batuan serta mematuhi berbagai macam prosedur kerja juga perlu sekali diperhatikan bagi setiap pekerjanya. 

Terkadang Muncul Gas Berbahaya dan Beracun 

Dalam dunia pertambangan, Metan menjadi contoh paling populer dengan kadar gas yang sangat berbahaya bagi manusia. Memang Metan ini menjadi senyawa yang sangat ringan sekali untuk dibawa oleh Udara sebab : Tidak memiliki warna, tidak memiliki bau dan juga tidak berbahaya. Berbahayanya bukan pada saat di hirup, memang saat terhirup tidak membawa bahaya. Namun, di tambang batu bara bawah tanah, udara yang mengandung 5-15% Metan dan sekurang-kurangnya adalah 12.1% oksigen ini kemungkinan sekali akan meledak jika nantinya bisa terkena percikan api. Dan itu bisa berakibat fatal pastinya ! 

Selain itu, para pekerja juga sangat rawan sekali mendapatkan gas yang beracun akibat dari sirkulasi terowongan yang memang terbatas. Beberapa gas beracun diantaranya yang bisa kalian temui dalam dunia pertambangan : 

-) CO : Carbon Monoksida 

-) H2S : Hidrogen Sulfida

-) NOx : Mono-Nitrogen Oksida yakni gabungan Nitrogen + Oksigen 

-) SO2 : Sulfur Dioksida 

Banyak sekali nantinya kondisi yang akan membuat kadar-kadar tersebut menjadi sangat sulit menjadi nol. Sebab itu, ada yang namanya ketetapan pada ambang batas. Dan dari sini memang tidak ada satupun gas yang boleh sekali untuk melebihi dari ambang batas tersebut. Dan jika nantinya ada yang kadarnya jauh lebih tinggi, maka gas-gas ini mampu menyebabkan kematian bagi si penggali tambang itu sendiri. 

Selain itu, risiko lainnya seperti tempat yang dilalui akan sangat berdebu dan membuat kesehatan dari para penggali ini selalu dipertanyakan. Sebab itulah, sehabis mereka menggali sebisa mungkin untuk mendapatkan oksigen bersih kembali. Terima Kasih..

Konglomerat Batu Bara di Indonesia

Dari banyak pro dan juga kontra yang ada, bisnis batu bara merupakan sebuah bisnis yang tetap menjadi komoditas yang paling banyak digeluti oleh para konglomerat di tanah air. Bahkan harta kekayaan dari para konglomerat yang ada di Indonesia ini sebagian berasal semuanya dari bisnis batu bara. Siapa sajakah para konglomerat batu bara yang ada Indonesia?

Konglomerat Batu Bara di Indonesia

Batu bara atau disebut juga dengan istilah emas hitam memang merupakan menjadi komoditas yang cukup populer, khususnya di kalangan para pebisnis. Selain batu bara mampu membuat kaya raya banyak orang, berbisnis batu bara juga dapat membuka lahan pekerjaan bagi banyak oran. Kehadiran dari bisnis batu bara ini tentunya cukup kontroversial. Namun seiring banyak disebut-sebut sebagai sebuah bisnis yang merusak lingkungan. Nah, berikut inilah nama beberapa konglomerat batu bara yang berasal dari Indonesia.

Low Tuck Kwong, Rp 34 triliun

Menjadi orang kaya dan juga sukses menjadi agen sbobet sebuah hal yang tentunya tidak bisa didapatkan secara instan. Semuanya harus dilakukan butuh proses serta pengorbanan. Hal itu juga yang dirasakan oleh seseorang Low Tuck Kwong yang sejak remaja didinya sudah terjun di dunia bisnis mengikuti jejak orang tuanya. Sejak 1972 ia pindah dari Singapura ke Indonesia dan kemudian resmi menjadi warga negara Indonesia yaitu pada 1992.

Berawal dirinya sebagai seorang kontraktor bangunan, Low Tuck akhirnya mengakuisisi sebuah perusahaan tambang batu bara dari PT Gunung Bayan Pratamacoal dan juga PT Dermaga Perkasapratama pada tahun 1997. Setelah itu, ia kemudian mengoperasikan terminal batu bara yang berada di Balikpapan, Kalimantan.

Lambat laun ia pun membentuk sebuah perusahaan PT Bayan Resources yang menjadi perusahaan induk dari banyak perusahaan lainya, yaitu lebih dari 15 perusahaan tambang di Indonesia. Data Forbes juga mencatat jika pada saat ini Low Tuck Kwong memiliki total kekayaan yaitu mencapai sekitar 2,4 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 34 triliun. Low juga dinobatkan sebagai salah satu dari orang paling kaya di Indonesia dan menduduki peringkat ke-11 pada 2018.

Garibaldi “Boy” Thohir, Rp24,2 triliun

Pria yang akrab juga disapa Boy Thohir ini memiliki kekayaan yang mencapai 1,7 miliar dolar AS atau setara Rp 24 triliun. Boy Thohir yang tercatat juga sebagai orang terkaya di peringkat ke-16 menurut majalah Forbes. Dirinya merupakan salah satu pemilik saham terbesar Adaro Energy, perusahaan induk yang banyak memiliki entitas atau juga anak usaha.

Adapun beberapa perusahaan pertambangan yang juga di bawah Adaro Group antara lain PT Semesta Centramas (SCM), dan iuga PT Paramitha Cipta Sarana (PCS). Ada juga PT Mustika Indah Permai (MIP) serta PT Bukit Enim Energi (BEE) dan masih banyak lagi. Selain perusahaan tambang, Boy juga ternyata masih punya banyak perusahaan lainnya, salah satunya adalah sebuah startup yang sedang dibangunnya melalui aplikasi Umma.

Boy Thohir yang merupakan kakak kandung dari Erick Thohir yang pada saat ini menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara ke-9. Dari Kabinet Indonesia Maju yang telah dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada 23 Oktober 2019. Keduanya memang merupakan sama-sama pengusaha, meski mereka berdua bergerak di sektor yang berbeda. Jika Boy Thohir yang lebih bergerak ke pertambangan, maka Erick bergerak di dalam bisnis media, hiburan dan olahraga.

Theodore Rachmat, Rp24,2 triliun

Perusahaan tambang batu bara yang dimiliki oleh pengusaha kaya Theodore Rachmat adalah Padang Kurnia Group yang didirikan pada tahun 2002. Perusahaan ini yang mulai mengeksplorasi tambah pertamanya yaitu di Kalimantan Selatan. Kapasitas batu bara yang yang diperolehnya pada saat itu berhasil mencapai 15 juta ton per tahun. Berkat bisnis batu baranya tersebut, Theodore memiliki harta kekayaan yaitu mencapai 1,7 juta dolar AS atau yang setara dengan Rp 24,2 triliun. Kekayaannya menurut Forbes tercatat berada di peringkat ke-17 persis di bawah kekayaan Boy Thohir.

Selain dirinya memiliki perusahaan tambang, ia juga mempunyai banyak sektor bisnis lainnya di dalam Triputra Group. Beberapa diantaranya terdiri dari sektor agribisnis, manufaktur, perdagangan, jasa, institusi dana pensiun hingga dirinya memiliki yayasan. Theodore juga memiliki sejumlah saham minoritas di dalam perusahan PT Adaro Energy Tbk dan menjabat sebagai wakil presiden dan juga komisaris di perusahaan tersebut.

Kiki Barki, Rp21,3 triliun

PT Harum Energy Tbk juga pernah mengharumkan namanya menjadi salah satu orang yang paling tajir di Indonesia. Bisnis batu bara yang sudah dilakoninya tersebut menjadikan ia mempunyai kekayaan mencapai sekitar 1,5 juta dolar AS, dan menurut Globe Asia kekayaan tersebut ditaksir sekitar Rp 21,3 triliun. Sekarang, perusahaannya ia serahkan kepada anaknya yaitu Lawrence Barki untuk dikelola.

Perusahaan ini berlokasi di Kalimantan Timur, Indonesia. Pada Mei 2019 lalu, keluarga Barki melalui anak usahanya yaitu PT Karunia Bara Perkasa kembali menambah kepemilikan sahamnya tersebut hingga mencapai Rp21,79 miliar atau yang setara dengan 16,2 juta lembar saham. Itu artinya saham milik Karunia Bara atas Harum Energy bertambah dari yang tadinya 74,05 persen menjadi 74,65 persen.

Haji Isam

Haji Isam, nama aslinya yaitu Andi Syamsuddin Arsyad ini merupakan salah satu pengusaha batu bara yang berasal dari Kalimantan Selatan. Selain itu, ia juga diketahui memiliki bisnis di bidang transportasi darat, laut, dan juga udara. Tak lahir dari orang kaya, namun berkat kegigihan dan juga kerja kerasnya, orang yang dahulu berprofesi sebagai sopir truk pengangkut kayu ini mampu menjalani hobinya yang sangat mahal, yakni off road.

Bukan hanya memiliki sederet koleksi mobil mewah, Haji Isam juga memiliki rumah dengan luas 20 hektar. Mengutip dari MoneySmart, pendiri dari Jhonlin Group ini disinyalir pernah meraup omzet hingga Rp40 miliar per bulan lho.

Indika Energy – Sudwikatmono

Perusahan batu bara berikutnya yang juga dimiliki oleh salah satu konglomerat adalah PT Indika Energy Tbk (INDY). Perusahaan tambang tersebut dimiliki secara tidak langsung melalui Indika Inti Investindo oleh Agus Lasmono Sudwikatmono, yang merupakan putra bungsu dari konglomerat Sudwikatmono.

INDY merupakan entitas dari induk perusahaan PT Petrosea Tbk (PTRO). Meskipun begitu, kinerja dari INDY sepanjang tahun 2020 tidak lebih baik daripada Petrosea. Pasalnya adalah INDY menelan rugi sebesar yaitu sekitar US$21,92 juta atau setara Rp324 miliar pada semester ke I tahun 2020. Padahal, semester I 2019 lalu INDY yang masih untung sebesar US$12,67 juta.

Anjloknya laba tersebut tentunya tidak terlepas dari pendapatan perusahaan yang tertekan dampak pandemi Covid-19. Jika dibedah, sumber-sumber pendapatan INDY juga sempat kompak mengalami penurunan dalam enam bulan pertama tahun ini.

Kinerja keuangan INDY yang sekarang ini kian tertekan ketika beban penjualan, umum, dan juga administrasi membengkak dari awalnya US$71,65 juta pada tahun lalu kemudian menjadi US$76,69 juta pada tahun ini. Untungnya, beban pokok dari penjualan yang masih mampu diperbaiki dari awalnya US$1,45 miliar pada Juni 2019 menjadi US$954,65 juta pada Juni 2019. Begitu pun juga dengan beban keuangan mereka.

Nah itulah beberapa crazy rich di Indonesia yang kaya, berkat bisnis batu baranya. Siapapun juga bisa menjadi orang kaya asalkan mereka berani belajar dan memulai sebuah usaha dari nol dengan tekad yang kuat dan juga dengan pantang menyerah. Semoga artikel ini nantinya dapat menginspirasi anda semua. Terimakasih.

Fakta Menarik Soal Freeport

Tahukah Anda, dimanakah letaknya tambang emas terbesar yang ada di dunia berada? Jawabannya ternyata ada di Indonesia, tepatnya berada di kabupaten Timika, Papua. Tambang emas Grasberg pada saat ini sudah dikelola oleh PT Freeport Indonesia yang terafiliasi juga dengan Freeport-Mcmoran. Tak hanya kaya emas, tambang tersebut juga ternyata mengandung banyak perak dan tembaga.

Fakta Menarik Soal Freeport

Menjelang berakhirnya kontrak tambang tersebut yaitu pada 2021, persoalan Freeport kini menjadi sebuah hal yang tengah hangat diperbincangkan. Mulai dari soal renegosiasi hingga dengan kasus Papa Minta Saham yang menjerat Ketua DPR RI yaitu Setya Novanto. Jika kita berbicara mengenai Freeport, ternyata ada beberapa fakta menarik mengenai perusahaan ini.

Pemerintah sekarang sudah berhasil menguasai tambang emas yang selama ini dikelola oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) . Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun juga telah dinilai berhasil mengembalikan aset besar negara tersebut kepada pangkuan Ibu Pertiwi. Penambangan tanah Freeport menargetkan yaitu untuk tahun depan melakukan investasi sampai dengan 2041 dengan biaya yaitu sebesar USD 14 miliar.

1. Didirikan sejak 1967

PT Freeport Indonesia ini sudah mulai menambang di Kabupaten Mimika Papua yaitu sejak April 1967. Selama lebih dari 40 tahun terakhir ini, lebih dari Rp 140 triliun investasi sudah dibenamkan di pertambangan tersebut. Membangun infrastruktur berupa jalan, pelabuhan, bandara, kota mandiri, pembangkit listrik, hingga tambang bawah tanah dan pabrik pengolahan.

Produksi pertama yang dihasilkan dari tambang terbuka tersebut dilakukan 43 tahun silam. Eksplorasi cadangan tembaga dan juga emas mencapai puncaknya yaitu pada tahun 2001 di Tambang Grasberg, dengan kapasitas produksinya hingga mencapai 238 ribu ton per hari.

2. Luas areal dan jumlah pekerja

Freeport Mcmoran mempunyai sejumlah tambang lain selain di Indonesia. Khusus yang berada di Papua, tambang tersebut yang memang tersohor dengan nama tambang Grasberg.

Tambang modern dengan menggunakan sistem kontrol satu titik ini mampu mengawasi areal tambang dengan luas 10.000 hektar dengan wilayah pendukung yaitu 202 ribu hektare, termasuk juga dengan Pelabuhan Amamapare di hilir Timika. Pekerjanya yang sudah mencapai 12.000 orang.

3. Terbesar di Dunia

Tambang Grasberg adalah tambang emas yang ternyata terbesar di dunia dan juga merupakan tambang tembaga ketiga terbesar di dunia. Tak heran, jika perusahaan ini terus bersikeras untuk memperpanjang renegosiasi kontrak mereka dengan pemerintah Indonesia.

Dikutip juga dari data PT Freeport Indonesia, cadangan dari tambangan yang sedang digarap oleh Freeport Indonesia di Papua sendiri sudah mencapai 2,27 miliar ton bijih, yang terdiri dari 1,02 persen tembaga, 0,83 gram per ton emas dan juga sekitar 4,32 gram per ton perak.

Sedangkan berdasarkan dengan data kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), dari cadangan tersebut, yang diketahui produksinya mencapai 109, 5 juta ton bijih untuk jumlah per tahun, dengan umur tambang yang sudah 23,5 tahun. Freeport tidak hanya memproduksi emas, perak dan juga tembaga. Freeport juga memproduksi molybdenum dan juga rhenium, sebuah hasil samping dari pemrosesan bijih yang dihasilkan dari tembaga.

4. Tidak diolah di dalam negeri

Sudah puluhan tahun Freeport berhasil mengeruk emas dan banyak mineral lainnya dari perut bumi di tanah Papua. Namun ternyata, hasil tambang tersebut memang tidak diolah di dalam negeri, tapi langsung diekspor dalam bentuk konsentrat.

Hal ini membuat penerimaan negara tentunya tidak optimal. Untuk itu, pemerintah mempunyai kebijakan melarang ekspor mineral mentah. Melalui, Undang-undang No 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba) yang mewajibkan perusahaan tambang tersebut untuk membangun smelter, pengolahan bahan mentah untuk tambang menjadi bahan jadi.

Freeport yang juga sudah berencana membangun smelter dengan kapasitas sebesar 2,5 juta ton per tahunnya atau senilai US$ 2,3 miliar. Dalam proyek smelter tersebut ditargetkan sudah selesai pada 2017. Freeport juga akan menggandeng perusahaan tambang emas lainnya seperti PT Newmont Nusa Tenggara.

5. RI cuma kuasai 9,36 persen saham

Meski tempatnya berada di Indonesia, namun sedihnya mayoritas kepemilikan tambang emas tersebut berada di tangan perusahaan tambang yang berasal dari Amerika Serikat tersebut. Saat ini Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc.

Tercatat sudah memiliki 81,28 persen saham, pemerintah Indonesia yang hanya memiliki sekitar 9,36 persen saham dan PT Indocopper Investama mempunyai sebanyak 9,36 persen. Pemerintah kini meminta Freeport untuk mendivestasikan sahamnya tersebut sebesar 30 persen secara bertahap. Namun hingga saat ini, diskusi mengenai pelepasan saham itu masih sangat alot.

6. Kontrak karya Habis 2021

Kontrak Karya (KK) Freeport nantinya akan habis pada tahun 2021. Perusahaan ini masih bersikeras ingin segera memperpanjang kontrak dengan pemerintah Indonesia. Sementara menurut UU Minerba No 4 Tahun 2009 dan PP NO 77 Tahun 2014, perpanjangan operasi tersebut hanya boleh diajukan paling cepat 2 tahun sebelum nantinya Kontrak Karya (KK) berakhir.

Jika KK berakhir pada 2021, maka menurut aturan, pengajuan perpanjangannya baru bisa dilakukan yaitu pada tahun 2019. Jika perpanjangan kontrak Freeport dikabulkan maka perusahaan yang asal dari AS tersebut akan mengeruk emas dan mineral lainnya hingga tahun 2041.

7. Investasi Jangka Panjang

Cadangan emas yang sangat menggiurkan, membuat Freeport juga ingin terus menguasai tambang Grasberg. Bahkan, Freeport sudah siap mengalokasikan dananya yaitu sebesar US$ 17,3 miliar. Dana tersebut yang akan digunakan untuk mengembangkan penambangan bawah tanah US$ 15 miliar dan kemudian untuk membangun smelter US$ 2,3 miliar.

8. Alasan Penambangan Di Atas Tanah Ditutup

Direktur Utama dari Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, jika ada beberapa hal yang menyebabkan mengapa penambangan yang dilakukan di atas tanah akhirnya ditutup. Salah satu alasan utamanya adalah karena cadangan emas yang ada di atas tanah yang sudah habis.Tony yang juga menambahkan, dengan tahun ini pihaknya akan mencari alternatif penambangan lainnya. Namun seluruh penambangan nantinya masih dapat dipastikan akan dilakukan di atas tanah.

9. Freeport Bekerjasama dengan BUMN

Freeport Indonesia juga akan membangun sebuah pabrik pengolahan dan pemurnian atau (smelter) dalam jangka waktu kurang lebih lima tahun. Pihaknya mengaku antusias terkait kepastian dari kelanjutan bisnis perusahaannya bersama dengan holding BUMN PT Inalum hingga tahun 2041, baik secara hukum maupun secara fiskal.

Demikian itulah beberapa fakta menarik tentang PT Freeport. Kita kenal jika freeport menjadi perusahaan tambang emas terbesar di dunia, kita harus bangga karena ternyata negara Indonesia sangat kaya karena memiliki tambang emas yang cukup besar. Tapi faktanya, walaupun tambahng ini berada di Indonesia, tapi kepemilikan saham terbesarnya di Pegang oleh AS. Tentu kita tidak ingin melihat freeport terus dikeruk oleh keserakahan asing. Semoga freeport kelak akan dikuasai penuh oleh Indonesia. Terimakasih.