Masa Penuh godaan ! Hasil yang Gemilang yang Telah Mengantarkan Perusahaan Pertambangan !

Meskipun sudah tidak ada lagi perusahaan tambang yang berasal dari Indonesia yang menembus batas sebuah kapitalisasi pasar yang memiliki nilai sekitar US$5,3 miliar dan mulai masuk ke dalam kategori 40 perusahaan tambang yang terbesar yang ada di dunia pada tahun 2017, industri pada pertambangan yang ada di Indonesia juga telah menunjukkan bahwa kinerja yang sangat baik seiring pada pemulihan harga komoditas dan peningkatan pada permintaan komoditas secara global.

“Dalam laporan yang ada ini, kita melihat bahwa adanya pendekatan yang sangat tepat, terukur, dan penuh kesabaran dari sebuah perusahaan-perusahaan pertambangan dalam menentukan sebuah strateginya masing-masing untuk memberikan nilai untuk jangka panjang. Hal ini sangat konsisten dengan peningkatan kinerja yang ada pada industri pertambangan yang ada di Indonesia, yang telah mengikuti pulihnya harga yang ada pada komoditas dan permintaan komoditas secara global yang akan semakin kuat.”

Sudah ada terdapat pemulihan yang sangat patut dicatat pada kapitalisasi pasar saham pertambangan yang sudah terdaftar di BEI selama pada tahun 2017 yang sudah mencapai sekitar Rp 310 triliun mulai per tanggal 31 Desember 2017, atau meningkat sebesar 17% jika dibandingkan dengan posisi per tanggal 31 Desember di tahun 2016. Kenaikan yang terjadi ini terutama berasal dari saham batubara yang sudah naik sebesar 27%. Tren ini mulai berlanjut hingga di tahun 2018 yang di mana kapitalisasi pasar dari perusahaan pertambangan batubara dan mineral mengalami sebuah kenaikan lagi masing-masing sekitar kurang lebih 9% dan 18% pada tanggal 30 April 2018.

“Usaha pada pertambangan telah mengandung banyaknya sebuah risiko. Walaupun pada risiko-risiko ini akan sangat berbeda-beda berdasarkan hasil lokasi tambang, yurisdiksi, pada perusahaan. Indonesia, seperti negara yang lainnya, masih memiliki pekerjaan rumah yang harus mereka selesaikan. Menurut pemetaan yang beresiko pada kami, kepastian regulasi ini akan menjadi salah satu hal yang paling utama yang perlu mereka tingkatkan dalam lingkungan investasi pertambangan yang ada di Indonesia,” Winzenried menambahkan.

Sekitar ada empat puluh perusahaan tambang yang terbesar yang ada di dunia akan menunjukkan hasil kinerja pada keuangan yang sangat mengesankan di tahun 2017 lalu, yang dimana pendapatan mulai meningkat hingga 23 persen yang kini menjadi USD $600 M, menurut laporan Mine 2018 PwC yang telah terbit pada tanggal 5 Juni 2018 silam.

Analisis laporan tersebut telah memastikan bahwa adanya peningkatan dalam siklus pertambangan, yang telah didorong oleh pertumbuhan ekonomi global yang kini semakin meningkat dan pada pemulihan harga komoditas. Dibantu dengan strategi-strategi penghematan pada biaya yang sangat tajam dan selama beberapa tahun terakhir ini, margin dan juga pada kemampuan perusahaan-perusahaan tambang untuk menghasilkan pendapatan kini telah meningkat secara signifikan, yang berujung pada lonjakan laba bersih kurang lebih sebesar 126 persen.

Proyeksi pada tahun 2018 kami mengindikasikan bahwa adanya peningkatan kinerja keuangan dari 40 perusahaan tambang yang sudah terkemuka akan terus berlanjut seiring manfaat yang terus mereka nikmati ini dari momentum yang sudah naik dalam siklus pertambangan ini.

Neraca Keuangan yang Sehat

Perusahaan pertambangan akan terus berfokus pada penguatan neraca keuangannya di tahun 2017, yang dimana sekitar $25 M telah dialokasikan untuk pelunasan utang yang dimiliki oleh perusahaan, dan pengeluaran pada modal pun telah mencapai rekor yang terendahnya di angka sekitar $48 M. Sebagai hasilnya, angka gearing ini turun dari 41 persen kini menjadi 31 persen, atau kembali sejajar dengan rata-rata yang terjadi pada 15 tahun lalu dari neraca keuangan dari 40 perusahaan tambang yang terbesar tersebut.

“Dengan telah diselesaikannya sebagian besar yang sangat dikhawatirkan terhadap likuiditas yang pada saat itu masih tersisa di tahun 2016, neraca keuangan kini menjadi lebih kuat, dan perusahaan-perusahaan kini sudah mempunyai keleluasaan untuk mulai bertindak. Walaupun kita berharap akan melihat peningkatan pada pertumbuhan peluang di tahun 2018, perusahaan-perusahaan tambang yang sangat cermat harus berupaya menghindari kesalahan-kesalahan yang telah terjadi di masa lalu dan akan mengikuti rencana strategi pada pertumbuhan agar dapat menghindari dari serbuan gila-gilaan terhadap sumber daya yang ada di puncak siklusnya,” hal ini yang dikatakan oleh  O’Callaghan.

Rekor peningkatan tertinggi dalam kontribusi pajak

Pengeluaran pada pajak mulai meningkat hingga 81 persen di tahun 2017, yang dimana pajak tunai yang dibayarkan kepada pemerintah sangat meningkat hingga 67 persen, walaupun tarif pada pajak badan masih relatif stabil yang ada di sebagian besar pasar-pasar utama.

Lonjakan pada pengeluaran pajak sebagian besar didorong oleh kenaikan pada laba dan juga pada dampak reformasi pajak AS, yang mengalami sebuah peningkatan yang jarang sekali terjadi sekitar sebesar 4 persen (atau dikatakan sebesar $2,8 M) dalam tarif pajak efektif akibat dari revaluasi pajak tangguhan. Diharapkan kedepannya pada reformasi pajak AS akan meringankan sebuah beban pajak pada perusahaan-perusahaan tambang yang menjalankan usaha nya di AS.

Untung yang sangat besar bagi para pemegang saham akan berlanjut, namun sampai kapan?

Imbal dari hasil para pemegang saham mulai meningkat hampir dua kali lipat dari tahun yang sebelumnya (year-on-year), dari yang sekitar $16 M di tahun 2016 ini menjadi $36 M. Dengan tingkat kinerja yang ada pada saat ini, dividen dapat mencapai rekor yang tertinggi di tahun 2018.

“Para pemegang saham yang bertahan untuk melewati siklus-siklus boom yang ada di tahun 2008 dan juga di tahun 2012 akan mulai bersemangat untuk menuai imbalan atas kesabaran yang mereka miliki, karena pada saat ini optimisme dan laba telah kembali pulih. Namun ada godaan di depan mata untuk memperoleh imbal hasil yang lebih besar lagi bagi para pemegang saham yang ada atau pemangku kepentingan yang lainnya juga harus diimbangi dengan kebutuhan yang mereka miliki untuk terus berinvestasi demi nilai jangka panjang yang akan berkelanjutan,” ini yang dikatakan O’Callaghan.

Para pendatang baru mencoba peruntungannya

Di tahun 2017 yang lalu, ada banyak pendatang baru yang mulai aktif dalam sektor pertambangan. Para investor swasta (Private Equity) misalnya itu, akan sangat tertarik pada peluang investasi pertambangan dan akan menjadi peserta aktif dalam hampir setiap transaksi batubara yang berkualitas yang akan ditawarkan pada pasar Australia selama tahun berjalan.

Bahkan sudah ada juga beberapa contoh dari perusahaan non-tambang yang mulai bermitra dan melakukan merger dengan perusahaan-perusahaan tambang untuk mengamankan sebuah akses terhadap komoditas. Sebagai contoh yang ada itu seperti, Agrium, sebuah perusahaan grosir dan retail pada pupuk dan juga bahan kimia yang berasal dari Kanada, yang melakukan merger dengan produsen potas yang terbesar di dunia, PotashCorp, sedangkan Tesla akan terus berinvestasi dalam pasokan litium, hal ini termasuk transaksi mereka yang baru-baru ini dengan Kidman Resources di Australia.

“Dari kami akan memperkirakan bahwa apakah ada minat dari para pemain non-konvensional dan akan terus meningkat di tahun 2018 dan bahkan setelahnya pun akan terus meningkat, secara khusus karena memiliki kondisi untuk menjalankan sebuah usaha terus membaik. Walaupun juga ada beberapa perusahaan tambang incumbent yang akan memandang para pendatang baru ini sebagai suatu ancaman yang baru, perusahaan-perusahaan yang lain akan berupaya memanfaatkan ide-ide, atau modal, dan cara-cara yang baru, mereka akan memberikan nilai secara jangka panjang,” hal ini yang diungkapkan O’Callaghan.